Laman

Selasa, 03 Juni 2014

Curcol : Antara Mimpiku dan Dia

Mengawali apapun itu nyatanya selalu sulit ya? Mau nulis kayak gini aja daritadi aku mikir mau nulis apa duluan. Bolak-balik ngetik, hapus lagi, ngetik lagi, hapus lagi. Capek juga mikirnya. Heheheee... Yah sudahlah, malam ini aku mau ngobrolin soal diriku sendiri. #eeaa. Boleh kan? Ini juga blog-ku. Siapa yang berani ngelarang? #maksa.
Kali ini bahasan mengenai mimpi yang sempat mengabur dari pandanganku dan sayangnya juga berhubungan dengan makhluk yang namanya cowok. #eh? Sempat hilang semangat memulai ceritanya, tapi yah inilah tulisanku. Sekitar 5 bulan lalu, aku terpukau dengan satu di antara banyak makhluk cowok di dunia ini. Mungkin juga masih sama sampai sekarang. #mungkin. Aku sudah bertekad mengakhiri semuanya, bersama berusaha untuk kembali seperti semula walau mungkin sulit. Toh, aku sendiri merasa ini semua hanya emosi sesaat dan rasanya kami berdua tentunya memiliki mimpi masing-masing. Keputusanku untuk melangkah meninggalkan masa-masa itu. Demi kebaikanku sendiri dan sesuai dengan keinginannya. Iya kan? I hope, yes.
Aku merasa drop selama beberapa bulan, walaupun bukan hanya karena kasus itu saja. Tapi, yang namanya menerima penolakan, walaupun dengan cara yang sangat halus sekalipun, tetap saja sakit. Apakah aku menangis? Tentu saja. Tapi, aku sendiri heran, aku tak menangis sebanyak yang aku bayangkan sebelumnya. Mungkin karena ini juga memang keputusanku dan aku siap menerima segala keputusannya saat itu.
Hal menarik terjadi setelahnya, aku malah merasa aku jadi punya semangat untuk perbaikan diri. Aku menata lagi bayangan masa depan yang dari dulu aku terus berusaha berlari ke arah sana dan akhir-akhir sempat menjadi kabur dari pandangnku. Kembali menata diri, walau belum sepenuhnya berhasil sekarang. Menata pikiran tentang kuliah yang sudah berantakan dua semester ini. Menata semangat hidup yang pernah hilang. Rasanya seperti punya waktu untuk berhenti sejenak untuk beristirahat. Ya, waktu khusus untuk diri sendiri yang sudah lama hilang. Ada kelegaan yang luar biasa waktu itu. Mungkin itu yang namanya mengikhlaskan. Walaupun dengan cara, meruntuhkan segalanya dahulu untuk dibangun ulang.
Masalah yang aku hadapi mungkin memang bukan cuma kasus dengan cowok itu, tapi aku belajar untuk mengikhlaskan dari situ. Mataku sedikit terbuka. Kalau memang tidak ada kata “saling” dalam perasaan yang aku berikan, maka tidak akan ada kata “kita” dalam hubungan kami. Toh, hubungan antara aku dan dia masih baik-baik saja, jadi apa yang harus disesalkan saat ini. Lalu, aku berandai-andai. Kalau saat itu ada kata “saling”, mungkin aku tak akan belajar banyak. Aku tak akan belajar untuk menahan sifat egoisku. Aku tak akan mengerti arti ikhlas. Aku tak akan masuk dalam masa perbaikan seperti saat ini. Walau saat ini tak ada kata “kita”, aku sudah senang dengan semua ini. Terima kasih, Mas... J
Setelah semuanya menjadi seperti ini, aku menyadari bahwa kami memiliki mimpi masing-masing. Dia bilang belum ingin terikat dan masih ingin bebas. Mungkin maksudnya masih banyak juga hal yang ingin dia capai dan pikirkan selain masalah macam ini. Tapi, aku juga jadi membuka mataku lebar-lebar, aku masih punya banyak mimpi dan tanggung jawab yang masih harus aku tanggung. Aku sendiri yang sejak dulu menghindari hal-hal macam ini untuk fokus pada mimpiku saja. Sayang sekali saat itu aku goyah hingga menjatuhkan harga diri sendiri. Tapi sudahlah, kalau tidak ada kejadian itu aku kan tidak akan seperti sekarang. Lebih kokoh berdiri seperti ini, lebih indah untuk diperhatikan, lebih menarik untuk dikenali, lebih dewasa memandang hidupku sendiri. #narsis
Saat ini, mimpiku tak akan berhasil kalau hasil kuliahku masih seperti ini. Aku harus berlari lebih kencang lagi untuk kali ini. Rasanya memang lelah, tapi aku yakin hasilnya juga pasti akan setimpal. Semester depan juga harus lebih fighting lagi nihh... Yeeaahhhh.... Sebentar lagi selesai kok dan harus siap-siap mengawali dunia yang baru. Jeng..Jeng...Jeng....  Ah, rasanya udah nggak sabar. J
Masih ada hal yang masih ingin aku lakukan. Jalan-jalan sendirian. #eeaa. Kalau sekarang jalan-jalan sendirian cuma baru bisa di sekitaran sini aja naik motor. Kalau besok, aku mau jalan-jalan sendirian ke Thailand, Singapur, Jepang, London, Madrid, Australia, dan S2 di Spanyol. S2 mau sendirian? Iyalah, kan ke sana juga mau cari cowok sekalian. Ahahahaa... Nggak puas ahh kalau lihatnya yang di sini-sini aja. #jiiaahh Sombongnya, padahal nggak ada yang mau juga di sini. *langsung murung* hehehee....
Yah, jadi keinget obrolan sama teman tentang memilih antara mimpi atau cinta. Banyak cerita di drama atau novel romance, tokohnya lebih memilih membatalkan atau menunda kepergiannya untuk bersama orang yang disukainya. Aku nggak pernah paham hal itu, mungkin karena memang aku belum merasakannya sendiri. Kenapa nggak jadi pergi? Itu kan mimipinya yang udah lama direncanain? Kan masih bisa nunggu selesaiin mimpinya dulu kan? Kenapa harus kayak gitu? Kenapa harus milih? Kenapa nggak dua-duanya dijalanin? Yah, kalau logikaku cuma nyampe ke jawaban, “biar ceritanya lebih seru dan lebih menyentuh tentang cintanya”. Tapi temanku bilang, “Karena selalu ada mimpi yang lebih penting, Rin.” Jadi, lebih tepatnya cintanya saat itu adalah mimpi yang lebih penting bagi si tokoh daripada mimpinya sendiri. Bingung? Saya juga, masih mikir soal itu kok. #sama
Jawaban menarik lainnya, aku dapat dari sebuah serial komik Seiho Boy’s High School yang aku baca kemaren. Ada percakapan yang diucapkan tokoh laki-laki saat tahu pacarnya akan pergi keluar negeri untuk waktu yang lama demi mimpinya. Kata-katanya secara dramatisnya kira-kira seperti ini.

“Aku disandingkan bersama mimpimu sebagai pilihan untuk masa depanmu. Bukankah itu berarti aku juga berharga untukmu. Itu sudah membuatku senang. Aku tak akan mengantarkan kepergianmu. Aku tak akan memintamu untuk menjadi pacarku kembali saat ini. Tapi, jika suatu hari kita bertemu lagi dan kau masih seperti kau yang sekarang, aku akan memintamu menjadi pacarku. Bukan lagi hanya untuk sementara, tapi untuk selamanya menjadi milikku. Aku mencintaimu. Selamat tinggal.”

Setelah kata-kata itu, si tokoh perempuan yang dingin dan angkuh memang menangis sejadi-jadinya. Tapi kemudian, dia bisa pergi dengan lebih tenang untuk meraih mimpinya di tempat yang jauh dan tanpa pacarnya itu. Menyelesaikan segala yang masih mengganjal dan melangkah lebih tenang. Mungkin itu juga yang aku rasakan sekarang. Ya kan, Mas?
Mau dibilang seperti apapun, aku dan dia masih berhubungan dengan baik. Walau mungkin semuanya belum kembali seperti semula seutuhnya. Tapi langkahku sudah lebih ringan. Aku harap dia juga seperti itu. Mari meraih mimpi masing-masing yang masih menggunung ini. Jika suatu hari nasib mempertemukan “aku dan kamu” kembali dalam keadaan yang memungkinkan untuk menciptakan kata “saling” dalam hubungan ini, maka aku tak akan segan-segan untuk mewujudkan kata “kita” dari kata “aku dan kamu”. Hehehee...

Yah, mau dibilang seperti apapun, aku memang masih berharap. Tapi, aku senang, langkahku sudah lebih ringan dan tenang sekarang. Aku bisa lebih fokus untuk lari menuju mimpi karena mimpi itu tak pernah menjauh dan hanya aku yang bisa memutuskan akan mendekat atau menjauh darinya. Kamu mungkin masih bisa menjadi mimpiku, tapi mungkin belum menjadi yang utama untuk sekarang karena masih ada mimpi lain yang lebih penting. Atau mungkin kamu mau membicarakan ulang tentang ini dan bersiap untuk saling menunggu. Hanya itu yang aku pikirkan sekarang. J

Selasa, 27 Mei 2014

Selamat Ulang Tahun, Bapak...

Aku bukan orang yang biasa untuk hafal tanggal hari ini, bahkan kalender aja cuma ada di hp. Hehe... Tapi, hari ini adikku tiba-tiba sms, “Mbak, bapak ulang tahun c...”, dan baru saat itu aku ingat hari ini tanggal 26 Mei 2014. Banyak hal yang menyebar di kepalaku malam ini. Pandangan tentang bapak yang ada dalam perjalanan hidupku selama ini.
Aku sudah mulai tinggal sendiri di Jogja lebih dari 2,5 tahun lalu. Kalau ditanya bagaimana perasaanku hari ini, aku bakal jawab aku kangen rumah. Memang tak pernah ada perayaan besar saat anggota keluargaku ultah. Tapi kumpul di rumah sudah jadi satu kebahagiaan, kan? Bapak mungkin juga bakal ngerasain hal yang sama. Aku masih inget waktu awal-awal pindah ke Jogja, kata mama, bapak jarang mau ngomong banyak di telepon sama aku gara-gara kasihan sama anaknya yang satu ini, tinggal sendirian. Aku nggak papa kok Pak, tenang aja anakmu yang ini sudah belajar untuk lebih mandiri sekarang.
Bapak bukan orang yang terlalu banyak ngomong tentang hal-hal yang buat beliau cemaskan, mungkin karena takut yang lainnya cemas. Bapak selalu ngomong, “Itu nggak perlu Ina pikirin, itu urusannya Bapak. Percaya sama Bapak.” Kadang pinginnya ngomong, aku sekarang bukan anak kecil lagi lho Pak. Yah, mungkin suatu hari nanti, aku bakal bisa bantu banyak buat keluarga. Ya kan, Pak?
Dari kecil, ada satu hal yang nggak bisa aku lupain, walau mungkin bapak udah lupa. Waktu itu lagi hebohnya ngomongin kemiripan artis, terus aku tanya dengan polosnya, “ Pak, kalau aku mirip siapa?”. Terus bapak jawab, “Nggak mirip siapa-siapa, kamu ya kamu, Rina ya Rina, bukan yang lain.” Satu pembicaraan yang entah kenapa masih aku ingat dan jadi peganganku bahwa aku nggak akan jadi orang lain tapi harus bangga untuk jadi diriku sendiri.
Oiya, waktu aku masih latihan tenis, bapak juga yang jadi pelatihku. Aku masih inget harus latihan setelah subuh, waktu yang biasanya aku masih bisa tidur lagi. Aku malah harus jalan ke lapangan, bawa raket, bawa bola setas, terus lari pemanasan. Hal lucunya kalau aku udah mulai ngambek, minta udahan, tapi bapak bilang, belum selesai. Aku bakal mukulnya asal kenceng doank, diarahin ke arah yang jauh dari bapak biar bolanya nggak balik-balik lagi. Tapi yang ada malah bapak keliatan seneng ngeladenin aku. Malah mainnya makin keras-kerasan, yang ada malah akunya yang tambah capek. Tapi, kalau udah selesai malah jadi seneng banget. Huuffttt... udah lama banget ya... hehehe
Waktu aku SMP-SMA, memang nggak banyak interaksi sama keluarga di rumah. Banyak hal yang aku lebih pilih lewatin sama temen atau malah sendirian. Lebih sering ngambek dan marah-marah sendiri di rumah. Tapi, saat-saat itu aku juga banyak dituntut untuk jadi mandiri, gak manja lagi, sampe harus bisa bantu-bantu yang ada di rumah. Paling kerasa waktu bapak akhirnya harus pindah kerja ke Semarang. Wah, rasanya setiap nganterin bapak berangkat ke Semarang tiap minggu itu ada beban tersendiri. Kata Bapak setiap mau pergi, “Jagain yang di rumah ya, bantu-bantu mama, jagain adikmu. Jangan sering berantem sama adikmu.” Ahh, meski sebel juga sama adikku satu itu, bapak udah nitipin  ke aku juga, jadi harus bisa ngalah. #nasib_anaksulung Hhuftt..
Belum lagi cerita aku milih jurusanku kuliah sekarang, negonya yang harus bolak-balik sama bapak. Tapi yang paling bisa aku inget itu, Bapak sama Mama selalu bilang, kalau bapak sama mama nggak kuliah biarin aja. Tapi, anak-anak bapak sama mama semuanya harus kuliah, harus bisa dapat pendidikan lebih tinggi. Pendidikan itu nggak berbatas buat anak laki-laki atau perempuan. Semuanya punya hak untuk dapat pendidikan yang layak. Ya, bapak dan mama juga selalu bangga kok untuk punya anak-anak perempuan seperti kami ini.
Bapak selalu nyaranin, jangan pernah minder karena kamu itu perempuan, perempuan juga bisa kok jadi orang besar. Asalkan sebagai perempuan harus tetap tahu diri kalau kita ini perempuan. Boleh aja kita itu jadi perempuan yang serba bisa dan mandiri, tapi jangan pernah lupa kami juga perempuan yang masih harus punya tata karma dan kerapian layaknya perempuan lainnya. Kami, anak-anak kalian, bangga untuk jadi diri kami sendiri. Baik sebagai anak maupun sebagai perempuan.
Aku kembali melihat kalender hari ini, tanggal 26 Mei 2014. Sudah banyak hal telah aku lewati sebagai anakmu, Bapak, Mama. Aku sudah hidup lebih dari 22 tahun menjadi anak kalian. Bagaimanapun keadaan kalian, aku tetap bangga jadi anak kalian, aku tetap sayang kalian. Terima kasih telah membesarkan aku menajdi diriku saat ini. Sekali lagi, aku sayang Bapak, aku sayang Mama, Aku sayang adik-adikku, aku sayang kalian.

Selamat Ulang tahun ya Pak... :D

Minggu, 25 Mei 2014

Puisi : Langit atau Awan

Hamparan langit biru yang begitu luas, cantik
Matahari terik hanyalah kawan kecantikannya
Memberikan dasar warnanya pada lapisan atmosfer
Bagai melukis warna biru dengan kuas besar
Mereka memang benar-benar berkawan
Makin terik, makin kuat untuk langit
Makin kuat, makin cerah hari ini
Makin cerah, makin cantik
Tak ada lain yang lebih dari kecantikan sepolos langit cerah

Kecantikan hamparan luas langit biru tak perlu kau ragukan
Namun, tak pernah ada yang akan membuatmu lebih patah hati
Membuatmu berharap pada keteduhan arak-arakan awan putih
Bergerak dengan gemulai, begitu lembut
Berjalan tanpa ragu melingkupi kecantikan langit biru
Dan pada akhirnya menghilang bersama hujan
Tangisan yang banyak orang mengira adalah milik langit
Bukan, tangisan itu milik sang awan putih yang menyejukkan
Ia memang tak secantik hamparan langit biru
Tapi, tak akan ada yang lebih membuatmu patah hati

Kepolosan terik langit biru memang begitu menarik
Gemulai lembut awan putih tak dapat diabaikan
Langit biru itu memang lebih abadi
Langit yang kau lihat kini, akan kau lihat juga esok
Awan putih itu memang lebih dapat bergerak bebas
Namun, ia akan menghilang bersama tangisannya
Langit biru dan awan putih tak pernah dapat dibandingkan
Mereka takkan pernah bisa membuatmu memilih
Bahkan, sepertinya aku lebih menyukai ketika mereka bersanding
Langit biru yang dihiasi arak-arakan awan putih

CerAND : Sakit Hati Penolong

Aku selalu merasa bahwa setiap manusia itu selalu diberikan dua sisi yang pasti ada dalam dirinya, paling tidak itu berlaku untukku. Seringkali mereka berdua bertentangan, tapi kadangkala mereka dapat saling berkompromi dengan baik. Hal lucu yang sering terjadi, aku seperti mendengarkan mereka berbincang di telingaku, saling berargumen. Lucu, benar-benar lucu rasanya. Aku manusia yang merasa punya dua sisi, Angel and Devil, dan seperti inilah saat mereka mulai saling berbicara.

Angel      : “Wah, ada apa ya sama si X, kok kayaknya lagi susah. Aku tanyain ahh...”
Devil       : “Gak perlu jadi orang yang sok baik deh. Biarin aja, emang apa hubungannya sama kamu?”
Angel      : “Eh, gak boleh gitu ah, temen sendiri juga. Kamu juga tahu kalau dia lagi susah kan, Dev?”
Devil       : “Iyalah jelas aku tahu, kerasa banget dia lagi susah, makanya aku seneng. Hehehee...”
Angel      : “Ah, kumat deh...”
Devil       : “Kalo emang tahu, terus kenapa? Biarin ajalah, orang kayak gitu juga.”
Angel      : “Gitu-gitu juga kan temen, Dev.”
Devil       : “Angel, jangan pernah jadi orang sok baik deh. Orang kayak gitu kalau lagi kesusahan emang apa sih ruginya di kamu? Malah untung kali, jadi kamu bisa mengurangi saingan yang lagi nggak fokus itu. Jadi, kita bisa ambil langkah duluan dari dia, nyalip dia. Kalau bisa malah sekalian kita makin jatuhin aja. Biarin aja dia kesusahan, kita yang untung.”
Angel      : “Husshh, gak boleh ngomong gitu ahh. Orang lain susah ya kita tolongin. Inget juga kata mama lho, Dev. Kita harus biasain buat bantu orang disekitar, soalnya tanpa sadar kebaikan yang kita kasih itu bakal balik lagi ke kita kok. Walaupun jalannya beda, pasti balik lagi ke kita. Lagian, kalau kita menangnya kayak gitu kan jadi gak keren, kita seneng di atas penderitaan orang lain.”
Devil       : “Ahh, sok baik kamu, Ngel. Lagian kebaikan apa pula yang kamu harapin dari orang kayak gitu? Nggak bakal ada yang kamu dapet, yang ada malah kamu sakit ati sendiri. Ngapaiiinnn.....??”
Angel      : “Ya, pasti ada kok balesannya, Angel yakin pasti ada.”
Devil       : “Yaudah, terserah aja. Lakuin suka-suka kamu aja sana!!! Hhuuhh...”

Setelah perdebatan yang panjang antara Angel dan Devil, akhirnya aku nyoba juga buat nolongin si X. Aku mencoba menanyakan kesulitan yang dialaminya, memberikan saran penyelesaian, hingga mencoba menghibur si X. Tapi, apa yang aku terima dari si X sangat-sangat berkebalikan dari apa yang aku harapkan.

Angel      : “Huhuhuhuuuu.... huhuuu... hiks...”
Devil       : “Hei..Hei... Udahlah, dari awal aku juga bilang, orang kayak gitu ngapain kamu tolongin. Udah liat sendiri kan sekarang, nangis deh yang ada.”
Angel      : “Ya aku tahu kok, dia orangnya keras, tapi aku kan niatnya bantu. Masa iya sih, dia nggak tahu maksudku.”
Devil       : “Ah, orang bajingan nggak tahu diri kayak gitu mana bisa dia bedain mana yang niatnya baik sama buruk. Orang di mata dia, kan yang bener ya dia sendiri, yang lainnya itu salah semua. Sampai-sampai nggak sadar aja kalau sekarang dirinya sendiri yang bakal goyah terus jatuh. Bakal seneng aku liatnya. Hehehee...”
Angel      : “Devil kok malah seneng gitu sih...”
Devil       : “Emang kenapa? Jangan belain orang kayak gitu lagi dehh... Udah dibikin sakit hati sampai nangis, masih aja mau bantuin? Kamu belum puas dianggap remeh kayak gitu. Kalau aku mah ogah. Pokoknya aku nggak bakal setuju kalau mau bantuin orang itu lagi. Bajingan bangsat emang dia tu...”
Angel      : “Tapi, Dev...”
Devil       : “Apa lagi sekarang?”
Angel      : “Kok tumben kamu belain aku?”
Devil       : “Hey, Angel bego sok polos. Mau nggak mau kita itu satu orang yang sama. Kalau kamu direndahin kayak gitu, berarti dia juga ngrendahin aku kan? Idih, nggak mau banget aku direndahin sama orang yang udah rendah kayak gitu, dasar si pikiran pendek itu. Liat aja nanti...”
Angel      : “ Ahahahaa... tapi makasih ya, Dev.”
Devil       : “Iya, udah. Makanya nggak perlu sok baik gitu. Jadi jahat itu seringkali lebih menyenangkan lho.. hehehee.”
Angel      : “Iya, tapi aku lebih suka jadi sisi baik hati... hehehe.”

Yah, seperti itulah pembicaraan Angel dan Devil saat aku melihat si X yang kesusahan. Rasa sakit hati yang aku rasakan pun mereka respon dengan cara mereka masing-masing, Angel yang menangis dan Devil yang memaki. Mereka selalu lempar argumen untuk membuatku melakukan apa yang mereka inginkan. Dalam pembicaraan mereka kali ini setiap orang mungkin punya pandangan lain. Tapi bagiku, Angel selalu menjadi sisi yang peduli pada apapun yang terjadi di sekitarku dan Devil selalu peduli pada keberadaanku. Mungkin karena hal inilah Angel selalu menjadi sosok berempati dan Devil selalu menjadi sosok tinggi hati.

Angel dan Devil punya cara masing-masing dalam memandang segala hal, tapi mereka tetap satu orang. Mereka adalah AKU.

Curcol : Jika Kamu jadi Aku...

Kalau saja kamu jadi aku, apa yang mungkin kamu lakukan? Merasakan apa yang mungkin orang lain tak rasakan. Mengetahui apa yang mungkin orang lain abaikan. Melihat apa yang mungkin orang lain lewatkan. Apa yang akan kamu lakukan, jika terlahir dalam keadaan seperti aku?

Aku merasa diriku bermasalah, sangat sangat bermasalah. Dianggap sebagai makhluk tak berlogika, makhluk yang tak masuk akal. Dianggap sebagai makhluk yang terlalu ikut campur urusan orang lain. Apa yang akan kamu lakukan jika jadi aku? Aku tak pernah membantah bahwa aku makhluk sok tahu yang sombong pada kemampuannya atau juga makhluk sok baik yang berusaha jadi pahlawan kesiangan. Karena itu memang aku, maka aku tak pernah membantahnya.

Apa yang akan kamu lakukan jika jadi aku? Mengutarakan apa yang aku rasakan, tapi tak pernah digubris, hanya dianggap sebagai bualan omong kosong. Kau tau? Saat itu, aku memilih diam. Memilih untuk mengabaikan apa yang aku rasakan, apa yang aku lihat, dan apa yang aku pikirkan. Aku diam. Diriku yang pengecut saat itu menguasaiku, membiarkan segalanya terjadi begitu saja dan hanya memperhatikan dari jauh. Menutup segala mata dan telinga. Menganggap perasaan itu tak pernah ada, pikiran itu tak pernah ada. Maaf, aku memang pengecut.

Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika jadi aku? Disalahkan sebagai seseorang yang tak dapat mencegah. Seseorang yang melihat dan merasa, tapi tak mampu mencegah. Seseorang yang berpikir tentang bahaya itu, tapi tak memperingatkan. Disalahkan mungkin bukanlah hal yang paling kejam. Kau tau bagaimana rasanya menahan diri, berdiam diri saat orang lain dalam keadaan yang sulit? Rasanya menyakitkan, seperti menyayat kulit sendiri dengan pisau di genggaman tanganmu. Menyiksa diri sendiri, hal paling kejam yang kulakukan.
Jadi, apa yang akan kamu lakukan jika kamu itu aku sekarang? Kalau aku bisa memilih, aku ingin membuangnya, meninggalkannya di saat aku mampu, atau mungkin tak pernah dilahirkan seperti ini. Aku benar-benar berharap aku bisa memilih. Melepaskan beban yang menyesakkan. Tak perlu lagi merasakan apa yang orang lain tak merasakan. Tak perlu lagi memikirkan yang orang lain dapat abaikan dengan mudahnya. Tak perlu lagi melihat hal yang dilewatkan orang lain tanpa rasa bersalah. Tak perlu lagi dicemooh dengan kekhawatiran pada orang lain. Tak perlu lagi disalahkan sebagai makhluk berhati dingin yang membiarkan segalanya terjadi. Kalau aku boleh memilih, aku ingin hidup tenang tanpa mengetahui itu semua, walau harus membuang segalanya. Kalau kamu boleh memilih, apa yang akan kamu pilih??

Aku sadar aku bukan Tuhan yang dapat melakukan segalanya. Aku hanya sebatas manusia. Aku sadar aku bukan malaikat yang tanpa nafsu. Aku hanya manusia yang juga punya keinginan pribadi. Aku pun sadar aku bukan iblis yang dapat bersenang-senang dalam kesulitan makhluk lain. Aku hanya manusia yang seringkali ingin membantu sesamanya. Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika jadi manusia seperti aku???

Puisi : Di Setiap Sudut Perjalanan

Malamku ini memang malam tanpa bintang,
       hanya berteman kelam dan udara yang mendingin...
Keramaian sekitarku tak mengusik sedikitpun kerinduanku padanya
       yang entah ada dimana....
Aku tersenyum, terhibur oleh pengalamanku yang kutempuh tanpa dampingan...
Bersahabat dengan kesepian pada setiap malam
       yang terlewat setelah kepergianmu...
Berteman dengan senyuman palsu di tengah keceriaan hidupku tanpamu...
Aku memang bertekad melepasmu, melupakanmu,
       tapi ternyata itu hanya sekedar niatan tanpa hasil...
Bisikan sekitar menasehatiku untuk mencari penggantimu,
       tapi belum kutemukan dimanapun...
Belum, aku belum memutuskan siapa yang pantas
       untuk ada di tempatmu sebelumnya...
Aku masih menanti, aku masih mencari di setiap sudut perjalanan hidupku...
Tapi, aku masih terjebak pada pesonamu...
Maka, jangan salahkan aku yang masih mencari setiap keberadaanmu,
       setiap jejak perjalananmu...

3 Mei 2014
Sekitar km 0, Yogyakarta

Puisi : Saksi Perjalanan

Dalam cantiknya malam tanpa bintang dan bulan...
Aku tersenyum memperhatikan gemulai gerakmu...
Riuh suaramu makin membuatku terjaga...
Malam ini memang makin larut dan gelap...
Namun, kesepianku terobati dengan genggaman jemarinya...
Lembut menyentuh setiap sela jemariku...
Kerinduanku telah terbayarkan bersama malam yang semakin dingin...
Namun, kehangatan tatapnya membuatku nyaman...
Kau tau, malam ini aku kembali kepadamu...
Kau tau, wahai jalanan kota Jogja, rasa terima kasih tertinggiku padamu kawan...
Aku mungkin tak perlu banyak bercerita padamu tentangnya...
Karena, kau adalah saksi perjalanan kami...
kalau saja kau memperhatikan kami, seperti aku memperhatikanmu saat ini...
Aku yakin kau pasti cemburu pada kami, padaku...
Aku yakin kau pun dapat merasakan rasa cinta yang tercurahkan darinya,
rasa rindu yang terpuaskan tatap matanya,
dan rasa sayang tersampaikan melalui jemari tangannya...
Ya kan, wahai jalanan kota Jogja???


3 Mei 2014
Sekitar Km 0, Yogyakarta