Laman

Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2016

Aku Kembali Pada Pantai




Menapaki tepian laut tanpa beralas kaki, merasakan gelitik pasir di sela-sela jemari. Aku memandang samudera luas yang terhampar bergelombang. Bosan. Aku jenuh dengan air berwarna biru yang sesekali dengan riaknya membawa ikan-ikan kecil kepinggiran. Aku jenuh dengan suara burung-burung yang berterbangan mengantarkan matahari menghilang dikala senja. Aku pun jenuh dengan pelangi yang sesekali muncul di atas tebing saat pagi menjelang.

Aku terduduk di atas tebing sejenak memperhatikan bayangan diri di permukaan air dengan penerangan sang malam. Cahaya bulan purnama membantuku bercermin, mencoba mengerti akan keberadaan diri ini. Rambutku ikal sebahu dengan warna kemerahan terbentuk dari teriknya matahari. Kulit tubuhku tak mungkin seputih salju, tak mungkin pula kuning langsat yang menggoda. Tapi inilah aku, bermata cerah dengan hiasan bulu mata lentik yang melengkapi wajah tirusku. Ketajaman wajahku ditunjang oleh menjulangnya hidung yang tercetak indah.

Keindahanku adalah menarikku, namun jadi tak menarik lagi bagiku saat melihat rambut panjang berkilau diterpa sinar mentari. Aku tak mengenalnya, tapi aku tertarik mengenalnya. Aku mendekat tanpa sadarku. Memperhatikan kulit kuningnya yang kontras dengan warna hitam kelam mahkotanya yang tergerai. Aku ingin tahu tentangnya karena yang aku tahu pasti bahwa dia tak seperti diriku, dibesarkan oleh pantai. Aku mengagumi dirinya dan keindahannya.

Dia menengok dan tersenyum membuatku tersentak sesaat. Wajahnya tak setirus milikku dengan pipi merona yang tulang yang terangkat membuat senyumnya terlihat tulus. Aku memperhatikan matanya dibingkai rapi oleh alis tipis alaminya. Wajahnya tak tajam tapi malah sebaliknya keramahan melingkupi setiap bagian wajahnya. Bahkan bibir mungil merahnya membuatku makin terkagum-kagum pada keindahannya. Keindahan yang tak pernah aku tau dan tak pernah pantai ajarkan padaku.

Kami berjabat tangan menandakan perkenalan dan aku pun merasakan kelembutan kulitnya. Warna kontras yang terlihat pada pertemuan kedua tangan membuatku menyadari berbedaan asal-usul yang kami bawa dalam kehidupan dunia. Namun, hal ini membawa rasa penasaranku lebih dalam. Bukan hanya ingin mengetahui dirinya, aku ingin mengetahui tempatnya berasal yang dia sebut gunung. Dataran menjulang tinggi yang tak seperti pantai landai berbatas riak lautan.

Aku tertarik melangkah mengikuti kepulangannya, meninggalkan teriknya matahari pantai yang sesaat kemudian menjadi jingga dan membawa senja datang. Udara sesaat terasa menyesakkan dengan hawa dingin yang menyelimuti kulitku. Sejenak aku merindukan hangatnya pantai, tapi aku pun menginginkan keindahan yang diberikan gunung untuknya. Bulat tekadku untuk meninggalkan pantai dan mengejar keindahan gunung. Sesaat aku mengkhianati pemberian pantai padaku.

Hari-hariku berlalu dengan mengenal gunung dan mengubah diriku sesuai dengan ajarannya. Aku bersuka cita dengan sejuknya pagi yang tak lagi menyesakan nafasku. Mataku mencintai hamparan hijau dedaunan hingga dataran lembah yang entah berniat menyatukan atau memisahkan. Lenggokan aliran sungai serasa menari dengan alunan musik alam yang dinyanyikan burung-burung dan serangga gunung yang mengiringi. Aku mencintai tempat ini dan menerima keindahannya hingga tak terhitung banyaknya bulan purnama yang telah terlewatkan.

Perubahanku akan keindahan yang diberikan oleh gunung semakin nyata dengan kulit tubuhku yang berubah kuning langsat. Aku memperhatikan diriku yang terpantul pada permukaan danau yang tenang. Menganggumi keindahan tubuhku yang baru, tetapi kemudian aku murung. Bertanya-tanya pada diri tentang tak adanya perubahan pada setiap kontur yang telah diberikan oleh pantai padaku. Aku mengambil nafas panjang dan dia yang kukagumi berbisik padaku untuk bersabar karena setiap perubahan membutuhkan waktu.

Dia yang kukagumi selalu mengiringi langkah perubahanku, menyemangati setiap hari yang aku lewati untuk meminta keindahan gunung yang telah terpatri padanya. Aku tak pernah berpikir bahwa kekagumannya padaku, yang selalu diucapkannya dulu, semakin memudar dengan hilangnya keindahan pantai padaku. Cerita-cerita yang terucap dari bibir merah mungilnya bukan lagi untuk memujiku, tapi mengungkapkan kekaguman pada seseorang asal gunung lainnya. Seseorang yang memiliki keindahan gunung yang sama dengannya. Seseorang yang kemudian mengalihkan mata indahnya dariku. Dari diriku yang mengejar keindahannya dengan meninggalkan gelitikan pasir yang membarengi ombak.

Sekarang aku menyendiri di pinggir danau menunggu kedatangannya, tapi dia tak tampak. Tak lagi menyemangatiku untuk mengejar setiap perubahan yang kutuju. Aku bangkit untuk mencoba menemuinya. Dia menolak. Ku ajak dia kembali mengunjungi pantai dan dia juga menolak. Dia melupakan setiap kata-kata yang pernah terlontar indah dari bibir merahnya. Melupakan setiap pujian pada keindahan dari pantai yang pernah ada padaku. Aku membeku kedinginan di gunung. Aku kembali terpana dengan orang yang kukagumi. Terpana pada perubahan dirinya.

Aku pun kembali bercermin pada air danau dan aku membenci diriku sendiri. Membenci segala keindahan gunung yang telah diberikan padaku melewati banyaknya bulan purnama. Lalu aku pun merindukan pantai dan aku merindukan diriku yang dulu. Namun, air mataku telah membeku bersama dengan kekaguman yang telah menguap hilang.

Aku pun pulang. Meninggalkan segala keindahan yang memang bukan untukku. Aku pun kembali pada pantai yang telah menghiasiku dengan keindahan nyata darinya. Aku kembali pada pasir penggilitik kaki yang kurindukan. Aku kembali pada cahaya fajar yang sesekali dihiasi pelangi. Aku pun kembali pada teriknya mentari yang memberikan warna tubuhku kembali. Rinduku pun terluapkan dengan langit yang berwarna jingga tanda perpisahaan dengan mentari. Aku sadar aku merindukan asalku dan saat itulah air mataku yang beku mengalir membasahi pipi tirusku.

Ditemani cahaya bulan purnama memberikan gambaran jelas diriku di permukaan air laut dan sebuah ungkapan begitu lembut ditelingaku.


“Kau itu sungguh indah. Berlatar ombak lautan yang mendesir pasir dan disinari bulan purnama. Sungguh, kau adalah pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Janganlah kau pergi lagi dariku karena aku pun merindukan keberadaanmu disini.” Lalu ia pun membelai lembut rambut ikal kemerahanku dengan hembusan angin.

Minggu, 02 November 2014

Curcol: Innocence in three years

 Three years, I hope it wasn’t too fast. I have finished my 7th midterm test, so it must be more then three years. Ya, it must be three years that I have been passed without realizing. When talking about having passed the time, I’m thinking about the change. What have been changed in me? Three years is not short time to try the best become an independent in this new place. New place, new town, without knowing much about others. Not much people I knew. Yeah, I felt lonely but also I felt happy that I could live far away from my family.
One of my biggest problem in new place is that I’m not an easy person to make relation with others. I’m not good in joining social relation. Everything was felt so strange and made me uncomfort. Even, I feel it that way right now, too. I could adapt to myself, but not with others. I can’t make me always like their perception and also they can’t too. Sometimes, it made me sad, made me feel alone, made me feel tired, but it’s me. I cannot be always like what all people want. Selfish? Egoist? Maybe, it is. Yeah, it is me.
Ah ya, back to the topic about changed and, in my opinion, nothing gonna changed is impossible. One of them is like starting to listen rock as my music recentlly. Before of it, I couldn’t really enjoy rock. Not many rock song that I could hear, except some of anime soundtrack. That is one of some reason, I have listened the music of NoisyCell recently.It’s a Japanese rock band that one of its song is a soundtrack of Barakamon, an anime that I have watched. The entitled of the song is ‘Innocence’, it becomes my favorite one in its album. Even it is a Japanese band, its song is written in English, so I can more easily to understand it. I have looked for the liryc of ‘Innocence, so you can enjoy it too. This song has hard japanese rock music, but I love the way it could touch me.

Innocence - NoisyCell
"It's is five O 'Clock", an evening-glow tells me
A Treasure of our memories, it's become empty, somehow
You held out a small hand, Smiling, like to you it was so natural
It may have no meaning, but it is something I can not do

You touched my hand without thinking, but it was nice for me

All the time that we believed, that the world's in our hands
We were wrong, maybe it wasn't, I just wanna hope so,
when I'm holding your hand

"Would you hold my hand?", Could I have ever said that?
I can't remember...
Why is it unclear?, I guess I'm just not who I used to be

At times I cried and cried, and at times I smiled

All the time we could not believe, that the world's in our hands
We were wrong, In fact it was, cause you're holding my hand now

We have always been part of the world, and the world has never changed
How about you? How about me? We just know that we have changed
All the times that we believed, that the world's in our hands.
We were wrong, maybe it wasn't, cause you're holding my hand now

We've always been part of the world, and the world has never changed
How about you? How about me? We just know that we have changed
At every moment, Everywhere, I can't believe, I can't believe,
when I'm holding your warm hand.
Your warm hand!

At times I cried and cried, and at times I smiled


NoisyCell, I love the music and also the lirycs. I love the way they touch my hearing and also my heart. I like the voice of Ryosuke-san that give a gentle touch in their songs. I like the ‘screaming’ of Ryo-san which always make me startled, but his guitar strains always make me never bored with their songs. And also I like drum beat of Kiyoshi-san that make my heart can also follow their strains. All of these are just like to realizing that someone you love is closed to you. You said that you’re not interested, but after you listen it more, you can fall in his charm too.
This may be one of the changed in three years, enjoying to listen the rock music. And I think that this band has a magical touch to open my heart, which other songs haven’t had it. NoisyCell has something in its music that could make me enjoy the strains. Then, it makes me looking for about them by internet, but there is not much information I get about them. I only know about this album with seven song and one instumental. I think it maybe their debut album, but this is great. I’ll wait their next music.
Yeah, their album has just finished playing (maybe for 3 times, hehehee). I tought have to start my other tasks before they start to play chasing each other for the deadline in my head. Ahahaa... Maybe this is only one of my changing, but the point I want to say in this that there have been many event happening in three years of my live. They have made me like this now and this is me. Do you want to accept me with all of my condittions? Or maybe, do you want to wait for me getting all of my targets, here in my life?
I hoped you had agreed with the second option, because I only wanted to say,

“I'll fly up to you when I catch the wind with my wings.”
(Handa Seishuu- Barakamon).



Jumat, 19 September 2014

Curcol : Tekanan Sekitar

Curcol kali ini, aku tulis bener-bener cuma buat curhat colongan aja. LHO?? Emangnya yang sebelumnya nggak ya? Yahhh, gimana ya, kayaknya nggak perlu dibahas juga sih, coba beri penilaian sendiri dehh... *biar tulisan sebelum-sebelumnya dibaca juga*. Ahahahaa...
Niatnya nih, mau jadi bahasan santai aja, tapi yang dibahas kayaknya lumayan berat deh. Apalagi untuk orang kayak aku, makin berat daahh... #eh? Oke, lanjuutt...
Semuanya berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, “Ngapain mbak, kok mau lulus cepet-cepet?”. Dan dengan santainya aku jawab,”Sudah ada yang nungguin.” Dengan suksesnya jawaban itu menuju pertanyaan lain yang lebih makjleb-jleb, “Seriusan, Mbak? Mbak habis lulus, mau langsung nikah?” #Jebret #Makjleb. Langsung lahh aku jawab, “Ya nggak lahh, masih jauh. Masih nanti kalau itu.” Percakapannya memang selesai sampai di situ, tapi pikirannya masih sampe sekarang. Ahahaha...  *Cuma bisa menertawakan diri sendiri aja*
Jadi, sekarang sudah tahu apa bahasan lumayan berat yang aku maksud? Ya, benar.Pernikahan. Jenis makanan macam apalagi sih ini? #Jiaahh malah makanan lagi. Kayaknya kalau masalah filosofi, artian, atau apapun itu tentang dasar-dasar pernikan, aku nggak bisa terlalu banyak bahas deh. Lebih baik tanya langsung ke anak Psikologi semester VII yang lagi ambil bahasan ini di kelasnya. *Niatnya mau mention temen yang ada di sana*.  Enaknya sih aku mau bahas tekanan pernikahan di sekitarku aja. Mumpung masih jadi anak Teknik, kita bahas tekanan aja kalau gitu. #eh? #lho?
Oke, tekanan pertama datang dengan pernyataan, “Seumuran kamu gini kan memang masanya pada nikah kan?” Nikah itu nggak bisa di general kayak gitu ya. Sesuai dengan kesiapannya masing-masing juga kan. Kalau waktu itu dibahas, seperti apa siapnya, juga setiap orang punya dasar kesiapannya masing-masing. Mungkin masih ada mimpi dan cita-cita yang mau dicapai dulu, kayak aku. Hehehee... Atau jawaban bagus dateng dari teman dekatku, “Kalau perempuan itu harus siap secara batinnya lebih dalem lagi. Soalnya, kalau nanti udah jadi istri, dia harus mengutamakan suaminya bahkan sebelum orang tuanya sendiri. Padahal suaminya mungkin baru saja dia kenal, sedangkan orang tuanya sudah dia kenal sejak lahir.” Tumben lho ini dia ngomong bener. Ckckckk.. *tepuk tangan*
Oiya, mungkin kalau bisa dilihat atau dicari data usia rata-rata menikah. Kalau memang seumuranku, berarti.... yasudahlah, nggak bisa bantah lagi.
Tekanan kedua, datengnya lagi-lagi dari temen sendiri. Jenggg..jengg... Ada undangan nikahan dateng. And, jeengg jengg... temen deket dari SMP udah mau nikah aja nihh. Rasa ikut seneng dia udah nentuin pasangannya dan aku bisa datneg buat bantuin di hari pernikahannya, apalagi ngikutin prosesnya. Pengalaman baru. Tapi, doa pasangannya pas kita-kita mau pulang, “Iya. Makasih ya, udah dibantuin. Semoga pada cepetan nyusul ya...” Alhasil langsung lirik-lirikan, terutama yang calonnya aja belum punya, kayak aku. Jiiiaahhh...
Nggak cuma itu, minggu lalu bahkan denger kabar, temen dari kecil yang TK-nya aja bareng, udah dilamar orang. Seneng kok dengernya. Tapi, pertanyaan berikutnya dari sekitar, “Lha kamu kapan?” Aahh, cuma bisa cengar-cengir aja... hehehe... Maaf ya Ma, anakmu ini belum laku dan memang belum mau laku dulu. Hehhee...
Yang ketiga, virusnya sudah mulai menyebar di media sosial. Entah ini kebetulan atau bagaimana. Ada beberapa teman yang upload foto tentang pernikahan, dari mulai undangan sampe foto nikahan keluarganya. Yang paling WOW, ya temen yang baru jadi pengantin baru. Upload-nya foto-foto dia jalan-jalan sama suaminya, temanya sih honeymoon. Yang ini nih tekanan bener-bener nyesek... hehehee...
Melihat dari tekanan demi tekanan yang saya terima, semuanya merujuk pada satu pertanyaan di awal, “Seumuran kamu gini kan memang masanya pada nikah kan?”.  Mungkin bener juga sih. Soalnya temen-temen seumuran memang satu per satu udah nikah atau perlahan-perlahan juga udah pada ngomongin nikah. Ya kan ribet juga ngeliatnya, padahal belum ada pikiran ke sana juga dalam waktu dekat ini. Ternyata, lingkungan memang mempengaruhi arah jalan pikiran kita. *Tenang Pak, anakmu ini belum mau nikah dulu kok. Selow* #mendadak_formal
Tekanan paling dahsyat sudah pasti dateng dari keluarga sendiri. Gimana nggak coba, kalau kumpul keluarga pertanyaan pertama yang dituju, “Sekarang pacarnya siapa?” Hikkss Hikss, cuma bisa meringis nggak jelas sambil jawab, “Nggak ada kok, Tante.” Itu sih masih mending, lebih makjleb lagi waktu ada keluarga yang nikahan terus ditanyain, “Kamu kapan nyusul?” Cuma bisa meringis selebar mungkin.
Yah, kalau diinget-inget dulu mungkin masih bisa ngelak dengan alasan masih ada yang lebih tua dan belum nikah juga, masih bisa bilang masih kecil, atau mungkin masih sekolah. Sekarang juga, alasan yang masih bisa buat diem cuma, “Masih kuliah, Tante. Biar selesai dulu terus kerja.” Yang paling ditakutin tuh kalau nanti udah selesai kuliahnya terus kerja, bakal jawab apalagi coba. Kalau memang belum mau nikah, memang kenapa tho?? Mungkin, nantinya kalau aku jawab masih ada yang belum kesampaian pun, tetap bakal dibantah juga. Habis itu, mulai siap-siap ketempelan status nggak laku. Jjiiaahhh... makin ngaco nih omongannya. Yang pasti sih tekanannya bakal makin besar juga ke depannya. Secara pengalaman yang aku lihat sih gitu.
Yoweslah, nikmati aja hidupmu. Udah ada alurnya masing-masing kok. Tekanan demi tekanan juga bakal kamu dapet terus. Toh, itu malah menandakan kalau kamu masih hidup juga. Kalau ditanya, galau atau nggaknya. Mungkin iya, mungkin nggak. Soalnya memang belum jadi prioritas hidup juga. Masih banyak yang harus diurus juga, biar selesai semuanya dulu baru bisa melangkah ke arah selanjutnya. Biar ngerasain naik tingkat dulu sebagai manusia, anak, cucu, calon engineer, perempuan, dan sebagai hamba Allah tentunya. #serius_modeON

Kemudian, tidak terasa sudah memasuki halaman ketiga, sedangkan tugas buat besok masih kosong melompong. AAAAAA *teriak panik sambil lihat jam*. Tepat jam 00.00, berhenti sejenak terus mikir, tapi.... Ahahahaa, nggak ngaruh kayaknya. Yaahh, berdoa saja untuk segala yang terbaik dan masih bisa dikasih jalan untuk melihat jalan yang terbaik pula. Dan satu hal lagi, doakan tugas saya juga dapat selesai pagi ini. Amiieennn...  hehehe Ciao. Cemungudh terus ya...!!!

Kamis, 11 September 2014

Curcol: Bukan Lagi Waktu

Bukan lagi perkara waktu yang ingin aku tuliskan.

Pada awalnya aku mengira ini semua hanyalah masalah waktu saja hingga aku menyadari pertemuan demi pertemuan yang terlewatkan begitu saja. Semuanya masih tetap sama, walau waktu sudah mengalir selama ini. Tak pernah lagi aku menemukan, mungkin takkan pernah lagi, jika aku hanya bergantung pada waktu untuk menyembuhkanku. Memangnya aku sakit apa? Mungkin, semacam kecanduan pada sesuatu yang tak seharusnya, yang orang lain sepertinya hanya perlu waktu untuk penyembuhnya. Ternyata spekulasi tetaplah hanya spekulasi.
Waktu adalah obat yang paling mujarab, kata orang, tapi rasanya tak berlaku di kasusku. Saat ini, aku tersadar perihal keinginan terdalam dari diri sendiri. Selama ini melangkah ditemani oleh lamunan tentang waktu, lamunan tentang masa depan yang akan segera datang dan menjadi lebih baik. Namun, nyatanya tak ada yang berubah menjadi lebih baik. Saat termenung kembali seperti sekarang ini, baru aku sadar. Aku sadar bahwa diriku sendirilah yang tidak ingin untuk melangkah pergi, untuk menjadi lebih baik, dan untuk mengambil kesempatan lain. Keinginan terdalamku ternyata masih tertahan pada saat egoku memuncak dan menguasai diriku.

Lalu, saat ini aku mulai bertanya-tanya, benarkah saat itu hanya sekedar emosi dan egoku semata? Bagaimana kalau ternyata aku memang benar-benar menginginkannya? Bagaimana kalau memang ternyata ini semua sudah menjadi sebuah kecanduan? Kemudian, aku tak mengerti lagi arah pikiranku setelahnya, semuanya terasa kembali kabur. Benar-benar tak memiliki arah yang benar.

Keinginan terdalam. Keinginan yang ada dalam benak ini, yang mungkin saja sudah tertanam terlalu dalam. Seringkali aku berharap aku ini hanya robot, bukan manusia yang memiliki jiwa, memiliki hati, dan memiliki perasaan. Robot hanya memiliki logika untuk berjalan. Hanya perlu jajaran program untuk dipatuhinya. Tak peduli dengan kesalahan yang mungkin dia lakukan, asalkan sesuai dengan programnya maka dia akan lakukan. Tak peduli, sepertinya merupakan frase ampuh yang aku butuhkan di sini. Kalau saja aku sudah bisa bekata tak peduli pandangan orang, mungkin aku sudah melakukan lebih banyak hal bodoh hanya untuk mengikuti kecanduanku.
Pada cerita-cerita khayalan yang aku temukan, beberapa bercerita tentang robot yang diciptakan terlalu canggih dan akhirnya memiliki apa yang kita sebut hati. Aku harap kisah itu tak akan pernah terjadi di dunia nyata. Aku hanya membayangkan seberapa kecewanya para robot itu saat tahu para penciptanya saja sudah mulai tidak memiliki hati, sudah mulai mengabaikan hatinya, dan sudah mulai tak menyadari keinginan terdalamnya. Tak ada yang salah dengan kalimat sebelum ini karena aku mungkin bisa menjadi contohnya. Manusia yang sudah mulai mengabaikan hatinya dan pada akhirnya tak lagi menyadari keinginan terdalamnya.
Hidupku selama bertahun-tahun hanya seperti menjalankan deretan program yang dituliskan untuk aku jalani. Aku terjebak dalam penggunaan logika tanpa memiliki hati, apalagi keinginan. Bahkan, keinginanku sudah diprogram sedemikian rupa hingga aku hanya mengikuti aliran waktu yang diberikan padaku. Ambisi-ambisi yang aku kejar, bukan lagi ambisi untuk diriku sendiri, tapi untuk orang-orang yang membentukku agar aku menjadi seperti apa yang mereka harapkan, apa yang mereka inginkan. Sampai pada saat ini, saat dimana aku mulai mempertanyakan siapakah sebenarnya aku dan seperti apa aku yang sebenarnya.

Pemberontakan. Mungkinkah ini semua yang terjadi padaku saat ini? Entahlah, semuanya masih terasa buram, tapi mungkin ini semua juga karena program yang tertulis di logikaku juga sudah mulai rancu. Aku mulai ingin untuk memiliki sesuatu yang seharusnya di dalam programku saat ini itu belum tercantum dengan jelas. Seharusnya ini bukalah program loop yang kembali ke titik awal saat dinyatakan NO. Seharusnya setelah ini aku menjalani sampai titik FINISH dan menyerahkan pada waktu untuk menyembuhkanku, tapi kenapa aku berbalik pada point planning tepat sebelum action aku jalankan.

Ada error-kah dalam programku? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Atau mungkin diriku yang tidak siap menerima program baru ini? Atau mungkin aku sudah tak lagi menggunakan logikaku sejak masa itu? Masa dimana aku mulai mengenal hati dan menggunakan emosiku untuk menjalankan hidupku. Bukan karena keinginan untuk memiliki atau kecanduanku, tapi mungkin karena ketakutan dalam diriku yang tanpa sadar telah merusak diriku sendiri.

Lalu, aku kembali mulai bertanya, apa sebenarnya keinginan terdalamku. Aku sudah mencoba untuk menyerahkannya pada waktu, tapi sayang sepertinya belum ada hasil. Aku malah semakin bingung menentukan arah flowchart logikaku sendiri sekarang. Semuanya terasa begitu kacau. Diriku saat ini terasa begitu kacau. Aku bertemu dengan orang-orang baru yang dapat menerima kondisiku, tapi aku tak yakin tentang tanggapan orang-orang sekitarku. Bisakah aku percaya bahwa mereka akan menerima aku apa adanya sekarang ini? Aku yang tak seperti apa yang mereka pikirkan. Aku yang tak seperti apa yang mereka inginkan. Kecewakah kalian dengan keadaanku sekarang ini?
Kalau aku boleh menuliskan tentang cause and effect theory, rasanya ujung permasalahanku hanya satu hal itu saja. Lalu, mengapa semuanya jadi seperti ini? Bukan, bukan kecanduanku yang kubicarakan, itu hanya salah satu efek yang aku dapatkan. Entahlah, lagi-lagi semuanya menjadi buram dan lagi-lagi aku berpikir seandainya aku dapat menggunakan frase ‘tak peduli’. Aku terlalu banyak berpikir hingga semuanya menjadi makin buram dan tak berarah.

Buram. Aku menjalani ini semua dengan pikiranku yang kusut dan belum terurai kembali seperti sebelumnya, saat programku masih jelas arahnya. Aku tak akan menyalahkan kalian yang tidak mengerti aku sekarang ini karena aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi padaku. Seperti yang aku tuliskan sebelumnya, pikiranku semakin buram dan aku benar-benar terlalu banyak berpikir kali ini. Kepalaku saja sampai sakit dan lagi-lagi logikaku tak mampu untuk mengungkapkan apapun kali ini. Ya, aku sungguh-sungguh tak akan menyalahkan kalian jika kalian memang tak mengerti aku sekarang ini.

Kamis, 03 Juli 2014

Cerpen : Akhir dan Awal

Hmmm... Aroma makanan yang menyeruak ini, benar-benar membuat aku lapar. Padahal tumpukan kardus makanan sudah siap di bagian depan rumah, tapi sepertinya dapur yang sudah seperti dapur umum itu belum juga beristirahat. Di bagian luar rumah, orang-orang juga sudah mulai mondar-mandir menyiapkan kursi, meja, dan dekorasi untuk persiapan pesta. Hari ini akan ada pesta pernikahan di sini, di rumah ini. Bukan, ini bukan pesta pernikahanku kok. Ini rumah mempelai perempuan yang sedang bersiap-siap di dalam kamarnya. Tapi, rasanya aku yang jadi tidak sabar melihat hasilnya. Waahhh...
“Lho, Mbak Sandra kok masih di luar sini?” Salah seorang kerabat Nita, sang mempelai perempuan, menepuk pundakku. ”Nita sudah selesai didadaninnya lho, Mbak. Tadi katanya nyariin Mbak Sandra.”
“Oh iya, Bu. Sebentar lagi aku masuk kok, ini cuma masih bantuin nata-nata meja-meja ini.” Aku hanya dapat mengangguk-angguk saja dengan tangan penuh wadah makanan seperti ini.
Segera setelah aku memasuki ruangan untuk berlangsungnya akad nikah, Nita melambaikan tangannya. Hari ini memang dialah ratunya. Kebaya putih yang dikenakannya begitu anggun dengan riasan yang mempercantik wajahnya yang lugu. Sekarang aku percaya kata orang, kalau perempuan yang akan menikah itu jadi lebih cantik. Entahlah, mungkin itu memang aura perempuan yang akan menikah atau mungkin hanya kebahagiaan yang terpancarkan di wajahnya. Tapi, satu hal yang tampak sekarang adalah kecantikannya yang begitu anggun.
“Mbak, Mbak nggak mau ganti baju dulu. Tadi, katanya, rombongan mas Hanif sudah siap-siap berangkat lho.” Ah, iya. Aku masih memakai atasan kaos oblong. Masa iya, di pernikahan sahabatku aku pakai baju kayak gini terus. Tapi, lebih enak gini sih sebenarnya. Hehehee...
“Ah, sebentar lagi deh. Aku mau nemenin kamu di sini dulu. Kata Hanif, di hotel mereka nginap juga lagi ribet banget. Kalau udah mulai berangkat, dia bakal sms kok. Pas itu baru aku ganti tampilan deh, tapi nggak bakal ngalahin cantiknya kamu hari ini kok. Tenang aja.” Aku duduk di samping Nita dengan santainya. Memang lebih enak seperti ini ya.
“Yah, Mbak Sandra nih, emangnya nggak mau dandan dulu gitu? Ini kan nikahanku lho, Mbak.” Nita menyenggolku dengan manja.
“Iya-ya, siapa tahu kalau aku dandan ada yang kecantol sama aku juga ya? Iya deh, bentar. Aku masuk dulu ya, Nit.”
“Ah, dasar Mbak Sandra nih...” Senyumnya memang manis ya. Hehehee
Entah sebenarnya apa yang ada dalam diriku ini. Banyak adik kelas yang pada akhirnya bisa dengan manjanya dekat denganku, termasuk Nita itu. Ya, Nita itu adik kelasku sewaktu kuliah, dia lebih muda dua tahun dariku. Aku mengenalnya dari Hanif yang dengan semangat empat lima mengejarnya. Waktu itu rasanya benar-benar repot mengurusi hubungan mereka. Ah, memangnya aku ini siapa sih sampai harus ikut-ikutan masalah mereka, waktu itu aku berpikir seperti itu. Memang bukan siapa-siapa sih, aku hanya teman dekat Hanif, si mempelai laki-laki.
“San, Sandra. Sini... sini...” Seorang laki-laki melambaikan tangannya padaku dari seberang ruangan. Ternyata Erik, teman kerja Hanif. Aku hanya memberi tanda untuk menunggu sebentar.
“Apaan sih, Rik?” Aku berbisik saat sudah ada di sampingnya.
“Kamu di sini aja duduknya. Nemenin aku biar nggak keliatan sendiri-sendiri gitu.”
“Kamu ngomong kayak gitu, berasa aku sama kamu ada hubungan apa gitu.”
“Kalo sekarang sih emang belum ada. Tapi, nanti-nati juga pasti ada kok.”
“Omonganmu emang udah ngawur dari bawaan lahir ya, Rik?”
“Aku serius kok kalau yang ini, San. Serius, beneran serius aku. Kamu nggak percaya juga sama aku ya? Aku itu...”
“Ssttttt... akadnya udah mau mulai.” Aku menghentikan percakapan kami. Kalau nggak kayak gini, Erik pasti bakal makin maksa omongannya.
Ini memang baru pertama kalinya aku mengikuti prosesi akad nikah dengan cara Islam. Lantunan doa-doa mulai dibacakan. Aku lihat Hanif tegang, raut wajahnya jadi aneh. Anak itu memang dari dulu selalu kayak gini, nggak bisa menutupi rasa tegangnya di depan orang. Aku masih inget juga waktu dia banyak salah bicara saat presentasi di depan kelas umum. Aku pikir kebiasaannya itu sudah membaik, tapi sepertinya dia benar-benar tegang hingga efeknya jauh lebih parah sekarang. Ahahahaa... Rasanya aku hampir saja tertawa guling-guling di sini, kalau tidak ingat ini prosesi sakral sahabatku itu.
“Saya terima nikah.....”
Ah, akhirnya kalimat sakral itu dia ucapkan dengan mantap. Mendengar suaranya itu, hatiku tergetar, benar-benar tergetar. Tanpa sadar air mataku sempat menetes dan buru-buru aku hapus. Sahabatku kini sudah resmi bertanggung jawab atas wanita yang dia cintai sepenuh hati. Kalau mengingat segala perjuangannya dulu, aku merasa sangat lega dia sudah sampai di posisi ini. Selamat untuk melanjutkan perjalananmu yang baru ya, Hanif.
“Wah, yang sudah jadi ‘suami’. Pasti seneng nih.” Erik melangkah ke arah Hanif, setelah antrian para tamu yang ingin memberikan selamat selesai.
“Rasanya lega, Rik.” Hanif menghela nafasnya dan mengelus dadanya sendiri. “Eh, San kamu kenapa? Sandra!”
“Ah, enggak. Aku nggak papa kok.” Aku mencoba menghapus air mata yang lagi-lagi menetes.
“Mbak, jangan nangis gitu dong...” Nita yang berdiri di samping Hanif mulai terlihat khawatir.
“Ahhh... gara-gara kalian nih, nggak bisa berhenti air matanya... huhuu...”
“Ahahahaa...” Ah, akhirnya malah mereka ketawa bareng-bareng gini.
“Sini, sini.” Hanif membuka tangannya dan merangkulku, membawaku menangis dipundaknya. Aku memeluknya dan memuaskan tangisku.
Aku berbisik sesaat sebelum melepaskan pelukan terakhir untuk sahabatku ini, “Sekarang kamu sudah punya tanggung jawab yang harus kamu bawa hingga ke surga.” Aku melangkah mundur dan meninju ringan pundaknya, lalu berkata, “Biarlah aku nangis sekarang, tapi jangan pernah berani buat Nita nangis lho!!”
“Ahahaa... iya iya.” Hanif mengacak-ngacak rambutku kali ini.
“Nita, maaf ya, harusnya aku nggak nangis gini.” Aku memeluknya kali ini. Kemudian, berbisik, “Jangan pernah bosan sama si keras kepala ini ya!!” Nita hanya mengangguk menjawabku.
“Ah, sudah-sudah. Kok malah nangis-nangisan gini sih. Nggak seru ah.” Erik merangkul pundakku kali ini, mencoba menenangkanku.
“Ah, ini juga kan nangis haru, Rik, haru.” Aku mencoba membela diri.
“Iya, iya. Aku ngerti kok.” Erik membelai rambutku dan mengeratkan rangkulannya. Entahlah, kali ini aku tak melawannya.
Kehadiran Erik dalam hidupku bukannya tanpa arti, hanya saja mungkin aku sendiri yang belum mengijinkannya masuk lebih dalam. Dia memang orang baik, sama seperti yang dikatakan Hanif saat memperkenalkannya. Tapi, dalam kamusku, baik saja tidak cukup. Entahlah, mungkin waktunya saja belum tepat atau mungkin aku saja yang belum mau membuka hatiku. Sampai saat ini, aku hanya bisa menganggapnya sebagai teman dekat, tidak lebih.
“Semalam, Hanif cerita banyak hal.” Sambil membawa cemilan di tangannya, Erik duduk disampingku saat resepsi berlangsung siang harinya.
“Ha? Cerita apa?” Aku menengok heran ke arahnya dengan tatapan serius.
“Cerita tentang kalian. Tentang perkenalan kalian, tugas yang kalian kerjakan bersama, persahabatan kalian, kedekatan kalian, sampai bagaimana kamu mendukung hubungan mereka berdua. Dia sangat mencemaskan keadaanmu akan bagaimana jika dia telah menikah nanti. Kalian nggak akan bisa tiba-tiba pergi keluar berdua lagi kan hingga tengah malam.”
“Dia bicara hingga ke arah sana? Aku rasa dia nggak perlu mengkhawatirkanku sampai sebegitunya.”
“Kamu sama Hanif itu, dulu sama-sama nggak punya teman yang bisa diajak keluar-keluar kan, makanya kalian bisa sedekat ini. Saling berbagi keresahan dan rahasia. Buatku nggak heran kalau dia juga khawatir padamu. Yah, apalagi kamu juga belum sepenuhnya menerima kehadiranku kan, San?”
“Aku nggak bermaksud menjaga jarak sama kamu kok, Rik. Kamu itu orang baik dan aku sadar itu. Kamu orang yang direkomendasikan teman dekat yang sangat mengerti aku ini seperti apa. Aku sedang mencoba, tapi aku juga butuh waktu kan?”
“Untuk melupakan perasaan kalian berdua?”
“Maksudmu? Apa Hanif bercerita hingga tentang hal itu juga?” Aku menatap Erik dengan serius.
“Ya, dia bercerita tentang hubungan kalian. Rasa saling menyayangi yang bukan lagi antar teman. Kalian saling menyukai kan?”
“Itu cerita lama. Saat itu, dia hanya terlalu putus asa untuk mengejar Nita. Dia datang padaku, mengeluh dengan jengkel dan itu kacau sekali. Saat itu, dia bilang, ‘Kalau aku sukanya sama kamu, pasti lebih gampang ya, San.’ Dan dengan bodohnya, aku menjawab, ‘Kalau memang lebih baik begitu, kenapa nggak kita coba aja pacaran.’ Aku benar-benar merasa bodoh saat itu.”
“Lalu, kalian sempat pacaran beberapa bulan, kan?”
“Iya, tapi terus aku sadar, aku sendiri nggak cukup sabar buat nanggepin manjanya dia. Dia juga kadang jadi lebih suka marah-marah nanggepin egoku. Waktu itu malah jadi benar-benar kacau. Emang sih, nggak pernah lama kok kita marahan, soalnya sadar kalau emang saling butuh. Kita sama-sama merasakan kenyamanan yang nggak kita dapetin dari orang lain. Rasanya pingin bareng-bareng terus, kadang saling kangen. Berasanya manis banget ya waktu itu. Tapi, kita sadar kok hubungan kita itu nggak mungkin bertahan selamanya.”
“Gara-gara agama?”
“Gara-gara kepercayaan. Tuhanku dan Tuhan dia itu beda. Apa yang kami percaya itu beda. Nggak pernah ada jalan damai untuk kami. Hal ini sudah cukup untuk menyadarkan kami berdua saat itu. Aku dan Hanif bukan anak kecil lagi waktu itu, sudah bisa mikir yang lebih realistis soal hubungan kayak gitu.”
“Terus, kenapa kamu juga mau aja lepasin dia?”
“Aku mungkin lebih suka bilang kalau kami berdua sudah berusaha sebisa mungkin, tapi rasanya itu cuma kebohongan yang menghibur. Kami sama-sama menyerah dengan gampangnya kok sama ketentuan Tuhan. Aku sayang sama dia, sama seperti dia sayang sama aku. Tahu kenyataan itu saja sudah cukup menyenangkan.” Aku mengangguk-angguk sendiri, meyakinkan kata-kataku pada Erik.
“Makanya, waktu tahu aku seagama sama kamu, dia jadi semangat ngenalin kamu ya? Jadi itu sebabnya. Aku dulu penasaran banget, perempuan kayak apa kamu itu, sampai si Hanif sebegitu sayangnya sama kamu. Sekarang aku tahu kok, kenapa Hanif bisa seperti itu. Aku cukup tahu perasaannya.”
“Gombalanmu nggak bakal mempan ya.” Aku menunjuk wajahnya, memperingatkan.
“Bukan gombal kok.” Erik menurunkan tanganku dan menggenggamnya. “Kamu itu memang dari luar kelihatan judes dan keras kepala, tapi kamu juga orang baik, San. Kamu orang yang bisa diandalkan, bukan orang sembarangan bisa kita temuin sehari-hari. Kamu itu perempuan keras yang siap jadi support kokoh, tapi juga nggak melupakan kelembutanmu yang seperti kakak itu. Kamu itu tetap seorang perempuan, San.” Aku menundukkan wajahku, menutupi mataku yang berkaca-kaca. Erik mengencangkan genggaman tangannya dan air mataku sempat menetes.
Setelah sejenak menenangkan diri, aku menegakkan kepalaku dan melepaskan genggaman tangan Erik. Saat itu, aku sadar, mungkin aku telah menemukan seseorang yang baru. Seseorang mungkin saja mau mengenalkanku dengan baik. Mau mendengarkan segala keluh kesahku lebih dari Hanif. Seseorang yang mungkin saja telah memperhatikanku selama ini. Tapi, rasanya aku telah berbuat jahat. Tanpa memperhatikan ketulusannya ini, aku malah sibuk dengan duniaku sendiri, memikirkan diri sendiri, dan menganggap dirikulah yang paling menderita.
“Mungkin ini bukan waktu yang tepat buat kita ngomongin ini. Tapi, Rik, kalau waktu aku balik nanti dan perasaanmu masih sama, aku mungkin bakal lebih mudah menerimanya.” Aku akan coba buat menyukaimu, Rik. Aku harap aku bisa melakukan ini semua untuk menyambut perasaanmu.
“Balik? Kamu mau kemana?” Kali ini Erik yang menatapku heran.
“Kamu yang pertama tahu selain keluargaku. Bulan depan, aku bakal pergi ke Jepang ngambil pendidikan S2-ku. Aku dapat beasiswa ke sana. Mungkin bakal balik dua sampe tiga tahun lagi.”
“Dua, tiga tahun, kan? Aku bakal nunggu. Bakal nungguin kamu, San. Aku janji.” Ah, dasar Erik, ngomongin hal serius macam ini malah pasang wajah serius khas anak kecil sambil ngangkat dua jarinya kayak gini.
“Iya, iya. Aku tahu kok.” Kali ini aku yang menurunkan tangannya dan menggenggamnya. Aku rasa aku memang sudah menemukannya.
“Ah, kita foto sama mereka yuk. Udah kosong tuh.” Tiba-tiba, Erik menunjuk ke arah mempelai dan menarikku berdiri. Dia menggandeng tanganku dan menuntunku ke atas panggung.
“Wah, sekarang sudah pake gandengan segala!” Hanif heboh dari atas panggung sambil nunjuk-nunjuk kami berdua.
“Iyalah, kemajuan ini namanya. Masa iya, udah dua tahun lho ini, dua tahun. Ahahahaa...” Dasar Erik kok malah bangga gitu sih.
“Ah, aku mau di sebelah Hanif aja.” Aku melepas tangan Erik dan berlari merangkul lengan Hanif. Lalu, berbisik, “Nanti aku juga bakal ada di posisi kalian berdua kok, tenang aja. Aku sayang kalian.” Hanif sempat menengok dan hanya aku jawab dengan tersenyum, senyuman termanisku untuknya.
“Yak, cheerrsss.....!”

Hari ini aku bahagia, aku seneng banget. Akhir dari kisah lama dan awal yang baru telah kami buka. Hari pernikahan sahabatku, hari dimana aku melepaskan rasa cintaku yang terpendam, hari dimana aku menyadari keberadaan cinta yang lain untukku, dan hari dimana aku bertekad untuk menerima orang baik ini beserta cintanya untukku.