Laman

Tampilkan postingan dengan label Cheeriness. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cheeriness. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2014

Cerpen: Sayangnya Aku bukan lagi anak SMA

Sayangnya aku bukan lagi anak SMA. Hal macam inilah yang terlintas dalam benakku saat mengingat hal-hal gila yang dulu pernah terjadi di masa SMA-ku. Ah, tenang saja ini bukan kisah sedih penyesalanku, tapi hari ini aku kembali ke SMA sebagai tokoh yang berbeda. Hari ini aku datang tanpa seragam dan tanpa ranselku, aku datang sebagai guru baru. Tanpa sadar aku pun tersenyum sendiri melihat gedung sekolahku ini. Aku rasa aku benar-benar merindukannya. Ya, aku merindukan masa SMA-ku.
“Rasti, sudah siap masuk kelas?” Ah, beliau adalah pak Dias, guru yang aku taksir saat SMA. Tak sangka sekarang jadi teman kerja. Wah, jadi ketawa-ketawa sendiri nih aku.
“Ah, iya Pak. Saya ke kelas X-6 pagi ini.”
“Baguslah, saya ada di kelas sebelahnya. Ayo, ke sana.” Pak Dias menyeimbangkan langkahnya denganku sambil tersenyum ramah.
“Pak Dias memang nggak berubah ya dari dulu, tetap santai dan ramah. Pasti sekarang yang jadi fans Bapak juga banyak ya?” Ah, sial aku kelepasan menanyakannya.
“Ah, tidak juga. Dari tahun ke tahun makin sedikit kok populasi fansku. Ah, tenang saja, belum ada yang mengalahkanmu Ras, kalau soal fans di sekolah ini.” Pak Dias lagi-lagi tersenyum. Tapi, aku malah merasa ingin mati saja kalau mengingat kebodohanku dulu. Sial, sial, sial. Benar-benar salah topik pagi ini.
Aku benar-benar bukan anak SMA lagi ya? Melihat tawa mereka saja jadi mengingatkanku tentang keusilan teman-teman satu kelasku. Permainan anak-anak yang kami mainkan telah membuat rusuh satu sekolah dan alhasil membuat kami harus dihukum menjadi jemuran manusia di lapangan tengah sekolah. Malunya harus jadi tontonan satu sekolah saat itu. Ah, aku jadi ingat sepulang sekolah seperti ini juga, dulu Arya sering main basket sebelum pulang ke rumah. Si bodoh itu memang tak pernah memperdulikan panasnya matahari. Tapi, sepertinya aku lebih bodoh lagi karena mau saja menunggunya sampai puas bermain basket. Bego.
“Sudah selesai mengajar hari ini, Bu guru?”
“Ah, iya sudah.” Tanpa sadar saat ini aku sudah terduduk di undakan teras menikmati permainan anak-anak basket. Tapi ini kan suara, “Ah, Mas kok ada di sini? Lah, emangnya dibolehin masuk ya?” Aku kaget dan tanpa sadar jariku sudah menunjuk-nunjuknya.
“Hey, dasar nggak sopan.” Dia menurunkan jari telunjukku. “Ah, kayaknya udah lama aku gak main basket. Aku mau ikutan main dulu ya. Titip jaket ini dulu.” Dia melepas jaket yang dikenakannya dan langsung masuk lapangan.
“Ah, tapi Mas... Mas...” Terlambat sudah. Si bodoh itu lagi-lagi membuatku harus menunggu dan hanya melihat kesenangannya bermain basket. Ternyata memang aku ini lebih bodoh dari si bodoh itu. Fixed, aku dicuekin kali ini, lagi.
Tak kusangka dia cepat juga akrab dengan anak-anak basket itu. Aku tak habis pikir apa ini semacam kutukan atau penyakit turun temurun. Anak basket sekolah  ini dari dulu memang tak pernah berubah, sama seperti si bodoh itu yang rela kepanasan dan basah oleh keringat. Ah, tapi siswi sekolah ini juga masih belum berubah. Aku masih bisa lihat anak-anak perempuan sesekali berteriak seru menonton permainan basket dari lantai dua. Mereka sampai menunjuk-menunjuk ke tengah lapangan pula. Apa mereka nggak sadar kalau yang main di tengah lapangan mungkin saja sadar kalau diperhatikan? Mungkin ini juga sebuah kutukan atau mungkin penyakit bodoh yang turun temurun. Hehehee
Aku masih ingat dulu sewaktu Arya melarangku untuk ikutan nonton dari lantai dua. Katanya, “Besok-besok jangan liat basket dari lantai dua sambil nunjuk-nunjuk gitu ya. Nanti yang lain ikutan GR. Kan kamu liatinnya aku doang bukan yang lain.” Cih, orang yang satu itu benar-benar bodoh dan narsis pula. Kalau kata-katanya seperti itu bukannya dia yang GR. Heran, aku.
“Lho, Rasti kok masih di sini?” Aku menengok dan ternyata pak Dias berdiri di sampingku.
“Oh Pak, saya sedang menunggu orang itu.” Aku menunjuk ke arahnya yang sedang asyik bermain di tengah lapangan.
“Wah, masih semangat saja dia main basket. Kamu juga masih setia saja menunggunya selesai main. Ahahahaa.. kalian ini memang pasangan yang selalu punya kejutan ya?” Pak Dias malah jadi ikutan duduk di sampingku.
“Yah, maaf deh, Pak, kalau ini juga mengenai kebodohan kami berdua dulu. Saya juga nggak nyangka kalo bakal kayak gitu jadinya, Pak. Tapi, saya jadi sadar kalau orang itu ternyata memang tulus suka sama saya, Pak.” Aku hanya mampu tersenyum malu.
“Ahahaa... iya, memang sih bikin heboh satu sekolah juga waktu itu. Waktu Arya tiba-tiba datang ke arahku dan hampir saja pukulannya mengenai wajahku. Untung itu bukan di ruang guru.”
“Tapi kan masih di wilayah sekolah, Pak. Masih di parkiran. Huuftt..” Aku hanya mampu menghela nafas mengingat kejadian itu.
“Yah, tapi masih untung juga nggak diperpanjang kan masalahnya dan dia masih bisa sekolah di sini sampai lulus. Sayang kalau siswa berprestasi seperti dia sampai dikeluarkan. Aku juga sudah dengar masa kuliahnya juga singkat dan nilainya bagus.”
“Yah memang untung cuma diskors seminggu, ternyata juga nggak menimbulkan masalah dengan belajarnya. Tapi, ada untungnya juga Pak dia diskors, waktu itu dia bilang jadi hafal susunan buku di perpus sekolah. Selama diskors, dia masih datang ke sekolah dan selalu di perpus. Yah, walaupun lebih sering numpang tidur. Ahahaa...”
“Iya-ya. Dia memang anak cerdas dan juga nekat. Nyaris memukul dan langsung memaki guru dengan kata-kata kasar. Tapi, semua dia lakukan hanya untuk membela orang yang sangat dia sukai kan, Ras? Pasti kamu bahagia sekali saat itu. Benar-benar pasangan yang penuh kejutan.”
“Yah, waktu itu antara senang dan juga malu rasanya. Itu semua juga seharusnya menjadi tanggung jawab saya. Dia mengira saya menangis gara-gara pak Dias. Ternyata, dia lihat waktu saya bicara dengan Pak Dias dan menangis saat itu. Setelah itu, saya bertengkar dengannya di kelas, dia menunggu saya di sana. Menanyakan dengan kasar apa yang saya bicarakan dengan bapak dan juga kenapa saya menangis. Dia itu...”
“Cemburu.” Pak Dias memotong kata-kataku.
“Eh?” Aku langsung menengok ke arah Pak Dias dengan wajah yang memerah.
“Ya. Dia waktu itu cemburu kan? Dia mengira kamu bilang suka dan aku menolakmu. Dia bilang seperti itu saat kami bicara berdua saja setelahnya. Kalian benar-benar pasangan yang bikin repot saat itu.”
“Ah iya Pak Dias benar. Tapi, terima kasih untuk waktu itu ya, Pak. Juga, mohon bantuannya sebagai rekan kerja untuk selanjutnya. Hehehe...” Kami berdua tersenyum dan tertawa bersama di sana mengingat tentang kejadian saat aku menjadi anak SMA. Ya, aku bukan anak SMA lagi.
Aku jadi teringat dengan perasaan senang, takut, dan malu yang bercampuk aduk saat itu. Meminta maaf sambil menangis di depan para guru hanya untuk membela si bodoh satu itu. Setelahnya, aku heran dengan diriku sendiri yang masih bertenaga untuk memakinya dengan segala kebodohannya itu. Kami sempat tidak saling bicara setelah kejadian itu. Benar-benar perang dingin .
Ternyata, saat itu memang masih anak SMA yang bingung saat sadar sudah menyukai teman sendiri. Beberapa hari setelahnya aku mendatanginya di perpustakaan sekolah. Aku melihatnya tertidur di sana, rasanya nggak rela harus bangunin dia saat itu. Jarang-jarang kan lihat dia diam kayak gitu, jadi sedikit lebih manis lihatnya. Hehehee...Yah, saat itu kami baikan dan hubungan kami terus membaik hingga saat ini.
“Pak Dias. Selamat siang, Pak.” Mereka saling menjabat tangan.
“Siang, Arya. Wah, sekarang rasanya sudah jauh lebih dewasa ya, nggak nyangka dulu saya sempat jadi guru kalian. Berasa tua saya sekarang.” Pak Dias memandang kami bergantian.
“Mas, sudah selesai mainnya kan?” Aku ikutan berdiri dan menyodorkan jaketnya.
“Wah, sekarang manggilnya mas ya? Kemajuan dan kejutan lagi.” Wajahku lagi-lagi memerah dengan perkataan Pak Dias ini.
“Ah, Pak Dias nih. Kan sekarang dia sudah resmi jadi milikku seorang, Pak. Masa iya, manggilnya masih ‘Arya, Ya, Arya’. Kemajuan sedikit dong, Pak.”
“Ahahaha...” Dua laki-laki itu sekarang bisa tertawa bersama. Aku senang.
Aku memang bukan lagi anak SMA. Sekarang aku adalah seorang guru di sekolah ini. Aku mungkin masih menjadi fans dari pak Dias, tapi aku juga sudah menjadi rekan kerjanya. Aku juga bukan lagi berstatus pacar bagi Arya, tapi sudah menajdi istri dari mas Arya. Kalau orang lain mungkin akan berhenti bekerja karena menikah, sedangkan aku malah sebaliknya. Aku berhasil mendapatkan pekerjaan ini setelah menikah. Aneh memang cara hidupku berjalan. Sama anehnya dengan cara Tuhan untuk mendekatkan kami sekarang. Berawal dari teman, sahabat, pertengkaran, rasa suka, marah, malu, bimbang, hingga cinta. Ah, benar-benar berawal sejak aku masih jadi anak SMA.
 “Ah, Ras. Jadi berasa nostalgia ya?”
“Dasar tua!!!” Aku mempercepat langkahku mendahului Mas Arya berjalan di depanku untuk menuju tempat parkir.
“Heeiiii... Kita kan tuanya sama-sama. Tapi, beneran lho ini kayaknya baru kemaren aku pulang sekolah bareng-bareng sama kamu. Main basket sambil kamu tungguin. Pak Dias juga nggak banyak berubah kan? Wah, bener-bener sudah berapa tahun ya kita nggak pulang bareng kayak gini dari sekolah?”
“Mas, mas ke sini naik apa? Jangan bilang...” Aku berhenti melangkah dan membalikkan tubuhku. Aku menatapnya lekat-lekat.
“Naik motor lahh... ini kan nostalgia...” Dia benar-benar mengucapkannya dengan enteng.
“Mas, hari ini kan aku pake rok selutut. Mas ini gimana sih. Kan nanti susah boncengnya. Aahhh....” Aku mulai merengek.
“Ah, dulu juga kan seragammu rok pendek selutut dan nggak masalah kan?” Benar-benar deh, santai banget jawabnya.
“Aku kan bukan anak SMA lagi, Mas.”
“Ah, gimana kalau habis ini kita makan di tempat bakso yang dulu biasa kita datengin kalau pulang telat. Sekalian ngerayain hari pertama kamu kerja. Kan aku juga cuti buat ini. Ayo, aku juga udah lapar.” Huufftt... Fixed, aku dicuekin lagi.

Ternyata, memang sudah bukan anak SMA lagi ya. Tapi, beruntungnya aku masih tetap saling menyukai dengan orang sama saat SMA. Cincin senada yang kami kenakan di jari manis kami sejak tiga bulan lalu bisa jadi bukti dan saksinya. Memang tak banyak yang berubah dari cara kami saling menyayangi, tapi kami berubah dengan cara kami menjalani hubungan ini. Semua hal yang pernah kami jalani berdua sejak SMA, memang telah menjadi kenangan. Aku bahagia hari ini bisa sedikit mengingat kebahagiaan dan keceriaan di masa SMA-ku. Ah ternyata, memang sayang ya aku bukan anak SMA lagi. Heheheee...

Selasa, 27 Mei 2014

Selamat Ulang Tahun, Bapak...

Aku bukan orang yang biasa untuk hafal tanggal hari ini, bahkan kalender aja cuma ada di hp. Hehe... Tapi, hari ini adikku tiba-tiba sms, “Mbak, bapak ulang tahun c...”, dan baru saat itu aku ingat hari ini tanggal 26 Mei 2014. Banyak hal yang menyebar di kepalaku malam ini. Pandangan tentang bapak yang ada dalam perjalanan hidupku selama ini.
Aku sudah mulai tinggal sendiri di Jogja lebih dari 2,5 tahun lalu. Kalau ditanya bagaimana perasaanku hari ini, aku bakal jawab aku kangen rumah. Memang tak pernah ada perayaan besar saat anggota keluargaku ultah. Tapi kumpul di rumah sudah jadi satu kebahagiaan, kan? Bapak mungkin juga bakal ngerasain hal yang sama. Aku masih inget waktu awal-awal pindah ke Jogja, kata mama, bapak jarang mau ngomong banyak di telepon sama aku gara-gara kasihan sama anaknya yang satu ini, tinggal sendirian. Aku nggak papa kok Pak, tenang aja anakmu yang ini sudah belajar untuk lebih mandiri sekarang.
Bapak bukan orang yang terlalu banyak ngomong tentang hal-hal yang buat beliau cemaskan, mungkin karena takut yang lainnya cemas. Bapak selalu ngomong, “Itu nggak perlu Ina pikirin, itu urusannya Bapak. Percaya sama Bapak.” Kadang pinginnya ngomong, aku sekarang bukan anak kecil lagi lho Pak. Yah, mungkin suatu hari nanti, aku bakal bisa bantu banyak buat keluarga. Ya kan, Pak?
Dari kecil, ada satu hal yang nggak bisa aku lupain, walau mungkin bapak udah lupa. Waktu itu lagi hebohnya ngomongin kemiripan artis, terus aku tanya dengan polosnya, “ Pak, kalau aku mirip siapa?”. Terus bapak jawab, “Nggak mirip siapa-siapa, kamu ya kamu, Rina ya Rina, bukan yang lain.” Satu pembicaraan yang entah kenapa masih aku ingat dan jadi peganganku bahwa aku nggak akan jadi orang lain tapi harus bangga untuk jadi diriku sendiri.
Oiya, waktu aku masih latihan tenis, bapak juga yang jadi pelatihku. Aku masih inget harus latihan setelah subuh, waktu yang biasanya aku masih bisa tidur lagi. Aku malah harus jalan ke lapangan, bawa raket, bawa bola setas, terus lari pemanasan. Hal lucunya kalau aku udah mulai ngambek, minta udahan, tapi bapak bilang, belum selesai. Aku bakal mukulnya asal kenceng doank, diarahin ke arah yang jauh dari bapak biar bolanya nggak balik-balik lagi. Tapi yang ada malah bapak keliatan seneng ngeladenin aku. Malah mainnya makin keras-kerasan, yang ada malah akunya yang tambah capek. Tapi, kalau udah selesai malah jadi seneng banget. Huuffttt... udah lama banget ya... hehehe
Waktu aku SMP-SMA, memang nggak banyak interaksi sama keluarga di rumah. Banyak hal yang aku lebih pilih lewatin sama temen atau malah sendirian. Lebih sering ngambek dan marah-marah sendiri di rumah. Tapi, saat-saat itu aku juga banyak dituntut untuk jadi mandiri, gak manja lagi, sampe harus bisa bantu-bantu yang ada di rumah. Paling kerasa waktu bapak akhirnya harus pindah kerja ke Semarang. Wah, rasanya setiap nganterin bapak berangkat ke Semarang tiap minggu itu ada beban tersendiri. Kata Bapak setiap mau pergi, “Jagain yang di rumah ya, bantu-bantu mama, jagain adikmu. Jangan sering berantem sama adikmu.” Ahh, meski sebel juga sama adikku satu itu, bapak udah nitipin  ke aku juga, jadi harus bisa ngalah. #nasib_anaksulung Hhuftt..
Belum lagi cerita aku milih jurusanku kuliah sekarang, negonya yang harus bolak-balik sama bapak. Tapi yang paling bisa aku inget itu, Bapak sama Mama selalu bilang, kalau bapak sama mama nggak kuliah biarin aja. Tapi, anak-anak bapak sama mama semuanya harus kuliah, harus bisa dapat pendidikan lebih tinggi. Pendidikan itu nggak berbatas buat anak laki-laki atau perempuan. Semuanya punya hak untuk dapat pendidikan yang layak. Ya, bapak dan mama juga selalu bangga kok untuk punya anak-anak perempuan seperti kami ini.
Bapak selalu nyaranin, jangan pernah minder karena kamu itu perempuan, perempuan juga bisa kok jadi orang besar. Asalkan sebagai perempuan harus tetap tahu diri kalau kita ini perempuan. Boleh aja kita itu jadi perempuan yang serba bisa dan mandiri, tapi jangan pernah lupa kami juga perempuan yang masih harus punya tata karma dan kerapian layaknya perempuan lainnya. Kami, anak-anak kalian, bangga untuk jadi diri kami sendiri. Baik sebagai anak maupun sebagai perempuan.
Aku kembali melihat kalender hari ini, tanggal 26 Mei 2014. Sudah banyak hal telah aku lewati sebagai anakmu, Bapak, Mama. Aku sudah hidup lebih dari 22 tahun menjadi anak kalian. Bagaimanapun keadaan kalian, aku tetap bangga jadi anak kalian, aku tetap sayang kalian. Terima kasih telah membesarkan aku menajdi diriku saat ini. Sekali lagi, aku sayang Bapak, aku sayang Mama, Aku sayang adik-adikku, aku sayang kalian.

Selamat Ulang tahun ya Pak... :D

Selasa, 18 Februari 2014

Khalila

Menemukan foto-foto lucu khalila....
Sedikit menghibur diri yang kesepian...
Tersenyum kembali pada kesendirian...
Sepertinya menarik untuk diutarakan...

Fotonya berjaket merah ini selalu jadi favoriteku, tertunduk lesu seperti memikirkan hal yang berat. Tapi, tahu gak cerita dibalik foto ini? Khalila baru aja nangis dan malah difoto-foto... ahahahaa
Anak kecil segala tingkah lakuknya selalu menarik untuk diperhatikan ya??? hehehee


Kalau foto centil yang satu ini, lain lagi ceritanya. Dibalik cara duduknya yang kecentilan ini, ada orang dibelakangnya yang megangin dan pengarah gayanya... ahahahaa
Gak cukup sekali jepret lho buat dapetinnya, beberapa kali gagal, gara-gara orang megangin dibelakangnya kelihatan... ahahahaa... Gak cuma itu beberapa kali juga nyengirnya takut dan mau nangis juga... seru ngeliatin hasil-hasil fotonya yang ini...




 Nah, kalo 5 foto yang ada di atas udah nggak perlu pengarah gaya profesional lagi (#eh?)... nih Khalila udah makin kenal aja sama kamera, sadar banget kalo mau difoto. Sayang aja, gegara jarang pulang, dia takut duluan kalo ketemu aku. Gak mau deket-deket, tapi asyik kalo ngusilin Khalila pas lagi kayak gini. Pasti nangisnya kenceng dan langsung lari kebingungan cari orang yang dikenal, mamanya, tantenya, atau kakak sepupunya mungkin... seru deh kalo udah kayak gini... ahahahaa (sadis banget ya??? hehehee)

Tapi, gak kerasa juga sekarang nih anak udah empat tahun aja umurnya. Tart hello kitty buat ultahnya juga kelihatan enak... Sayang aku gak di rumah... yaahhh kelewatan lagi... hehehe... Tapi, foto-foto yang aku tampilkan ini cukup menghiburku. Tawa anak kecil yang tidak kenal beban. Aku selalu merindukan diriku yang tertawa seperti juga dulu...

Memperhatikan kehidupan makhluk mungil ini emang seru. Dimulai dari menjenguk kelahirannya, melihat seorang bayi mungil yang terlelap sampe kemaren anak kecil yang sudah sekolah di PAUD... ahahahaa...
Tapi dibalik itu semua aku menyadari satu hal, aku juga sudah makin berumur ya? Pertanyaanku untuk diriku sendiri sekarang, seberapa besar perubahan yang telah aku lakukan pada diriku, keluargaku, teman-temanku, lingkunganku, atau negaraku? Pertanyaan yang selalu sulit untuk dijawab.... ahahaha



Minggu, 13 Oktober 2013

Basket Putri HMTI UGM

       Prestasi terakhir kami medali perak Teknisiade 2013. Tapi jangan cuma lihat bagian akhirnya saja, lihat kami lebih dalam dari awal kami dikumpulkan. Sisa tim dari teknisiade 2012 (tahun lalu) hanya berjumlah 5 orang, 1 org maba 2013, dan bisa dibilang 4 orang pemain basket dadakan. Oiya, ditambah seorag coach dan seorang manajer yang super kece. Kami memang keren... hehehee *mikir darimana bagian kerennya?* Belum diceritain. heheee...
       Sepuluh orang dalam 1 tim + 2 org official baru terkumpul secara nama saja sekitar 3-2 minggu sebelum hari pertandingan. Latihan intensif yang dihadiri sebagian besar anggota tim baru benar2 trelaksana sekitar 1 minggu sebelum hari-H. Aku sudah nggak kebayang saat itu, bagaimana nanti kami aka berjalan sebagai satu tim, terutama kekhawatiranku pada para pemaindadaka yang bisa dibilang nggak punya pengalaman pertandingan basket sebelumnya (sama sepertiku setahun lalu, pemain dadakan yang bener2 baru mengenal pertandingan basket saat itu). Namun, rasa salut luar biasa untuk kalian, untuk usaha kalian menngerti permainan basket, usaha kalian belajar dasar2 gerakan di basket, usaha kalian untuk memahami strategi permaian yang ribet itu.. hehehee... Aku tahu susahnya di posisi kalian setahun lalu, dan aku sangat-sangat bangga dengan kalian.
       Acungan jempol lain untuk (bekas) pemain tahun lalu yang super kece, nggak nyesel aku ketemu kalian dan bareng kalian dari tahu lalu. Walaupun tahun lalu aku nggak sekeren manajer kita tahun ini yang super sabar, super perhatian, dan super kece lah pokoknya. Bangga banget sebenernya dengan kemajuan kita berlima dari tahun lalu. Luar biasa banget pokoknya bisa mengenal basket dan berkembang bareng kalian dari setahun lalu. Kalian luar biasa !!!! Oiya, buat supergirl kita di tim ini, jujur waktu ngeliat kamu nangis di akhir pertandingan itu, aku juga ngerasain sakitnya. Maaf ya kami belum bisa bener2 support kemampuan kamu yang super keren itu. Tapi, nggak cuma kemenangan kan yang berarti, usaha dan kerja keras tim kita juga udah sangat bikin aku bangga... :)
      Ucapan selamat datang juga buat keluarga baru teknik industri yang udah berani bergabung dengan tim ini dan bertanding bareng kita. Kamu keren banget!!! Tahun depan harus bisa ngajak angkatan 2013 yang lain buat ikutan main juga ya... Kamu masa depan tim basket putri HMTI UGM!!! *lebay banget dahh bahasanya*... hehehee
      Makasih banget juga buat official tim. Kamu menaje yang luar biasa, sigap dan perhatian banget sama kita...!!! Tanpa usaha kamu ngumpulin kita, nghubungin kita, ngurusin kita; nggak akan ada medali perakuntuk tahun ini. Aku pernah ada di posisimu tahun lalu dan aku tahu beratnya tugasmu. Aku bangga banget sama kamu yang udah bisa jadi manajer yang jauh lebih baik dari aku tahun lalu. Keren Banget!!!!
     Buat Coach tahun ini, terima kasih buat waktunya dan yang pasti kesabarannya ngelatih kita yang aturan basket aja masih bingung. Hehehehee... Coach yang satu ini tampilan cool lho, jarang ngomog, tapi kalo protes di lapangan langsung jadi menggebu-gebu gitu. Bener2 baru liat dia kayak gitu ya cuma waktu ngelatih kita aja, irit banget sih ngomongnya. Hehehee *peace coach ^_^v* Tapi, aku tahu kok seangatnya ngelatih kita, walopun nggak secerewet coach yang lain. makasih banget buat ketersediaannya berada diantara kami para pemain basket putri Teknik Industri tahun ini. Nggak kalah kece kok sama kita, coach... hehehee
      Setelah kekalahan kita di final perjalanan kita nggak aan sampai di sini aja kan... Aku yakin karena kalian adalah kumpulan orang-orang luar biasa yang pernah aku temui. Rasa kebersamaan dan semangat tanding luar biasa. Aku bakal selalu inget pertandingan kita lawan Teknik Geologi, disaat kita tertinggal cukup jauh tapi kita masih bisa balas kesalahan-kesalahan kita dan kita menang di pertandingan itu. Mental yang luar biasa tanggung. Begitu pula saat kita menerima kekalahan dari Teknik Kimia, "bukan kita yang bermain buruk, hanya saja mereka kebanyakan latihan dari porsi latihan kita yang cukup". Kata-kata coach yang luar biasa menutup perjuangan kita di Teknisiade 2013 di malam final itu. Kita sudah bermain luar biasa malam itu, usaha klian, kegigihan kalian, dan semangat kalian benar-benar akan menjadi penngalaman luar biasa yang tintanya pernah tergoreskan pada lembaran hidupku, Tim Basket Puti Teknik Industri UGM... Ciao!!!!

INDUSTRI...!!!! SATU...!!!!

nB: Makasih banget juga buat Panser Ireng (Official Supporter of Industrial Engineering UGM) yang selalu menyemangati kita di setiap pertandingan. Kalian super duper luar biasa !!!!!

Jumat, 27 Juli 2012

Cerpen : Penantian


        Penantian itu berat, tidak mudah dilewati, dan tidak mudah dihadapi.  Sampai hari ini pun, aku tidak mengerti pada jalan pikiranku yang terus melakukan satu hal gila itu. Penantian. Kadang kala aku berkata pada diriku sendiri tentang keyakinanku pada penantian ini. Namun, dalam hatiku sendiri, aku belum menemukan satu pun jawaban yang memuaskan pikiranku itu. Hati dan pikiranku memang tak pernah kompak soal ini. Bertentangan dan selalu saja bertentangan. Entah ada apa dengan diriku ini.
         “Hera. Mau ikut keluar nggak? Aku sama yang lainnya mau belanja bulanan nih. Atau mau titip sesuatu mungkin?” Suara Eka, teman satu kost-kostanku, membuyarkan pikiranku yang sedang fokus dengan tugas akhir yang sudah sejak tadi ada di hadapanku ini.
          “Enggak ahh. Aku lagi ada tugas nih. Lagian Mas Revan bilang dia mau kirim email hari ini. Ada kabar bagus katanya.”
        “Mas Revanmu itu mulu yang dijadiin alasan. Emang nggak capek ya nungguin tu orang sampe tiga tahun kayak gini.” Sambil nutup pintu kamarku mulut Eka nggak berhenti ngomel.
         Ya, memang sudah tiga tahun ini aku hanya berhubungan lewat internet dengan kekasihku, Mas Revan. Entah apa yang merasukiku sampai-sampai aku mau menantikan kehadirannya kembali yang entah kapan akan terjadi. Dia mungkin tipe cowok jaman sekarang yang terlalu kaku, atau mungkin juga polos, tapi masalah otak jangan ditanya. Karena asetnya yang satu itu, setelah lulus dari universitas, yang sama dengan tempatku menimba ilmu sekarang, tiga tahun lalu dia langsung mendapatkan penawaran pekerjaan dari perusahaan asing dan sekarang bekerja di Jerman. Selain asetnya yang berharga tinggi itu, wajah yang kalem dan senyumnya yang selalu membuat kerisauanku hilang, mungkin itu semua yang membuatku tetap kukuh pada penantian ini.
         Setelah bosan dengan tugas akhir yang belum kunjung berakhir ini, aku mencoba membuka email. Ada satu kiriman dari mas Revan yang masuk, cepat-cepat saja aku buka. Saat membaca setiap kata-kata yang dia kirimkan, hatiku terasa sesak. Apakah ini akhir dari penantianku atau mungkin ada sesuatu yang salah? Aku mulai berharap hari yang dijanjikannya pada email yang satu ini cepat saja datang. Namun, entah mengapa ada perasaan aneh yang menjalar dalam diriku ini. Darimana datangnya, aku tidak tahu.
        Seminggu telah aku lewati dengan perasaan aneh yang terus menggelanyuti hatiku sejak kubaca email kiriman mas Revan itu. Sekarang aku sedang berdiri menantikan kehadirannya di bandara. Menantikan sosoknya segera ada di hadapanku memang terasa begitu aneh, apalagi  setelah tiga tahun tak pernah menatap dirinya secara langsung. Aku takut kami akan menjadi dingin dan canggung. Namun semua ketakutanku itu sirna sudah ketika ia keluar dari pintu kedatangan, melambaikan tangan kepadaku, dan segera memelukku denga begitu hangat. Dulu ia tidak pernah melakukan hal-hal macam pelukan hangat seperti ini padaku, tiga tahun di Jerman ternyata telah memberi sedikit perubahan padanya.
       “ Loh, ternyata gadisku sudah tambah dewasa dan tambah cantik ya? Rugi aku meninggalkan kamu selama tiga tahun.”
        “Ah, mas ini. Tiga tahun kan bukan waktu yang sebentar untuk merubah penampilan. Karena ditinggal Mas selama itu, aku jadi punya waktu lebih untuk dandan.”
        “Oh iya-ya. Kamu bener juga Dik. Pasti banyak yang mulai deketin kamu ya Dik. Tapi belum ada yang menarik hatimu kan, Dik?” Ada sedikit nada khawatir pada kata-katanya yang terakhir itu. Matanya pun memancarkan perasaan yang sama dan terus menatapku penasaran.
         “Aku kan gadisnya Mas yang paling setia. Tenang aja Mas, belum ada yang seperti  Mas kok.” Aku mencoba menenangkannya sambil menggandengnya untuk mengajaknya segera melangkah ke tempat taxi-taxi yang berjajar. Setelah dari bandara ini kami akan langsung menuju rumah keluarga Mas Revan.
         Di perjalanan tidak banyak yang kami perbincangkan, hanya seputar pekerjaan mas Revan ataupun kuliahku selama kami terpisahkan jarak selama tiga tahun. Hanya saja sesekali dia menggenggam tanganku lebih erat dari biasanya. Aku mulai menyadari  bahwa dia merindukanku melebihi  kerinduan yang aku pendam selama ini. Senyumnya memang tak pernah berubah, masih sama tenteramnya seperti dulu. Namun, penampilannya saat ini jauh lebih menarik dari sebelum dia meninggalkan negara ini, mungkin karena rambutnya yang lebih bergaya dan keren. Apalagi cara berpakaiannya pun sudah tidak sekuno dulu lagi. Tak salah aku memperbaiki penampilanku selama ini. Coba kalau aku masih tetap pada gayaku yang cuek, pasti kebanting dengan gaya mas Revan yang sudah sekeren ini.

         Sesampainya di rumah keluarga besar mas Revan, semuanya sudah menunggu. Ibu, panggilanku untuk ibu mas Revan, sudah mempersiapkan segala macam makanan khas Jogja untuk anak laki-laki tertuanya ini. Ya, mas Revan adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Mbak Asti, kakak mas Revan, sudah menikah tiga tahun lalu sebelum mas Revan berangkat ke Jerman dan Radit, si anak bungsu, satu tahun lebih muda dariku dan merupakan adik angkatanku di kampus. Sedangkan bapak, yang langsung berdiri dari duduknya untuk menyambut anak laki-laki kebanggaannya, masih bekerja disebuah instansi pemerintahan di Jogja. Keluarga ini sungguh hangat. Mereka mampu membuatku betah berada diantara mereka, walaupun aku adalah orang luar saat ini. Bahkan selama mas Revan ada di Jerman aku tetap disambut hangat oleh mereka, terutama ibu yang sudah kuanggap seperti mamaku yang harus meninggalkanku ketika aku berumur enam belas tahun karena kanker yang menyerangnya selama tiga tahun lebih.
      Hidupku memang terasa kembali bersemangat sejak kedatangan mas Revan, dapat menyandarkan sedikit beban tugas akhir yang harus aku selesaikan secepatnya. Paling tidak keceriaanku bertambah, walau kami hanya punya waktu selama seminggu. Waktu yang terasa begitu singkat bagiku yang menanti selama tiga tahun lamanya. Apalagi tidak hanya aku yang harus mas Revan temui. Masih banyak sanak saudara dan sahabat-sahabatnya ,yang sama sepertiku, menginginkan bertemu langsung dengannya. Sebisa mungkin aku mendampinginya jika aku tidak ada kegiatan perkuliahan. Mas Revan memang tidak mau hubungan kami ini mengganggu urusan kuliah dan karir kami masing-masing, komitmen yang masih terjaga diantara kami. Dukunganlah yang paling penting dalam hubungan kami ini, hal macam inilah yang kami terapkan dari awal.
        “Dik. Besok Mas harus sudah balik lagi ke tempat kerja. Maaf ya kalau Mas nggak bisa nemenin lama-lama di sini. Masih ada tanggung jawab lain yang harus Mas selesaikan. “ Mas Revan membuka pembicaraan saat kami tengah berjalan menyusuri pantai di sore itu.
      “Iya, Mas. Aku tahu kok. Mas tenang aja. Aku ngerti.” Walau terasa agak berat sebenarnya melepaskan Mas Revan yang baru beberapa hari ada bersamaku.
        “Tapi Mas janji, Dik. Mas akan pulang secepatnya.” Aku hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya. Entah apa yang kurasakan, tapi aku hanya mampu terdiam tanpa berkata apapun dan hanya mengikuti jejak-jejak langkah kakinya. Aku merasa aneh sore ini, merasakan ketidakrelaan yang besar untuk melepaskannya. Aku sendiri hanya mampu menghela nafas berat untuk menenangkan diri dan mengeratkan genggaman tanganku pada tangan mas revan yang terasa lebih hangat.
Jawaban dari perasaan aneh sore itu terjawab sudah dengan kabar yang aku dengar sendiri dari kata-kata Radit. Jawaban yang aku sendiri tidak pernah mau mendengarnya. Tidak pernah mau mengetahui hal macam ini kalau aku bisa. Seketika memang semuanya menjadi buram dan kemudian tubuhku lemas dengan gelap yang melingkupi saat itu juga. Tak pernah menyangka semua ini akan terjadi padaku lagi dan yang aku tahu ketika aku terbangun hanyalah air mata yang membanjiri hariku dengan kejamnya pada hari ini. Karena, keesokan harinya air mataku telah habis untuk mengantarkannya pada tempat tujuan terakhir.
Aku hanya sanggup bersandar pada tubuh Eka, yang tanpa pernah terlihat lelah akibat menemaniku sejak aku jatuh pingsan kemarin. Ya, hari ini aku menyaksikan sendiri tubuh laki-laki yang aku sayangi dibaringkan di tempat peristirahatan terkhirnya, setelah dengan perjuangan kerasnya melawan segala luka parah yang diderita akibat kecelakaan sebelum ia berangkat ke bandara. Semuanya terasa begitu cepat bagiku untuk merasakan kehilangan lagi dalam hidupku. Satu-satunya obat yang sedikit mengurangi rasa sakitku hanya sebuah catatan kecil yang tertulis pada buku catatan Mas Revan.

“Andaikan aku tidak bisa membalas segala penantian terbaik yang ia berikan untukku Yaa Tuhan, biarkanlah ia menemukan seseorang yang lebih baik dariku”

              Tidak ada yang lebih aku mengerti dalam tulisan itu, kecuali perasaanku yang dibalasnya dengan sepenuh hati. Dan hal ini sudah cukup untuk membalas segala penantian yang telah aku lakukan selama tiga tahun terakhir ini. Semoga jawaban dalam hatiku ini sanggup mengantarkan mas Revan yang telah berangkat lebih dulu ke surga.

Minggu, 01 April 2012

Pantai Siung

salah satu pantai paling keren yang pernah aku datengin...
pantai karang yg susah untuk dilupain...
jgn lupa kalo ke jogja cari pantai ini ya...
walaupun gak ada sinyal, tetep mantep bgt deh ni pantai...

foto-foto dari atas tebing... keren bgt cuuyyy...




pelangi dipagi hari... dua hari berturut-turut melihat pemandangan kayak gini, subbahannallah...

dari sisi pantai juga gak kalah keren kok...



klo ini gambar waktu air lautnya surut, karang yg tadinya dibawah air keliatan deehhh...
ada ikan kecil sampai kerang yang unyu-unyu...




klo ini sisi lain pantainya...

siapa yang tertarik datannnngggggg???? hehehee