Laman

Kamis, 14 Maret 2013

Curcol : Kedewasaan



Menjadi dewasa itu proses dan akupun masih dalam proses itu. Aku masih sering kekanak-kanakan dengan sikap yang sebenarnya nggak perlu dilakuin di depan banyak orang. Tapi, itulah aku sekarang. Aku yang ceplas-ceplos, suka ketawa keras-keras, masih suka nelat sana-sini, panik dengan masalah kecil, dan pada akhirnya nangis sendirian untuk menghibur diri. Kemudian, aku berpikir, kapan aku menjadi dewasa???
Menjadi dewasa itu nggak cuma masalah sikap dan cara bicara aja. Tapi buat aku yang paling penting untuk menjadi dewasa adalah bagaimana cara kita berpikir, bagaimana cara pandang kita pada suatu permasalahan, bagaimana cara kita menyelesaikannya, dan pada akhirnya bagaimana kita harus mengimprove diri kita sendiri. Sulit dan butuh waktu panjang. Terlebih lagi kita harusnya mulai melihat segala masalah bukan lagi cuma dari sisi kesalahan yang dilakukan orang lain, tapi kesalahan macam apa yang sudah kita lakukan.
Jangan cuma nyalah-nyalahin orang lain, tapi juga berpikir apakah kita sudah melakukan sesuatu itu dengan cukup baik, apakah kita sudah memberikan cukup, atau apakah kita sudah memberikan yang lebih baik dari orang lain.
Kalau orang lain tidak beranggapan sama dengan kita, jangan cuma ngotot kalau orang lain yang salah dan diri kita selalu benar. Mau menang sendiri dan pada akhirnya bicara yang nggak penting dan nyakitin hati orang lain.
Dua hal di atas, aku sendiri masih sering melakukan. Diluar kontrolku, aku tahu masih banyak yang sakit hati dengan sikap-sikapku. But, I’m trying become better and better. Karena aku juga ngerasain gimana capek dan keselnya berurusan dengan orang yang cara berpikirnya masih kekanak-kanakan banget. Berasa ketemu diriku enam tahun lalu. Eh, malah ngomongin orang, tapi mungkin kalau nggak karena kasihan sama orang itu dan bingung harus ngapain lagi, aku nggak bakal nulis curcol ini.
Ayolah, kita bareng-bareng berusaha untuk bersikap dan berpikir lebih dewasa dan nggak childish lagi kayak gini. Tumbuh bersama-sama menjadi seseorang yang lebih kokoh dan tidak mudah tumbang hanya karena masalah kecil.

Curcol : Emosi dan Egoistik


Harusnya malam ini aku selesaiin laporan praktikum yang deadlinenya besok siang, tapi bukannya buka bahan-bahannya aku malah kepikiran buat nulis sesuatu. Entah ini hal besar yang terjadi dalam hidupku atau bukan, tapi yang pasti,  sekarang ini buatku adalah masa-masa sulit untuk dilewati. Mau nangis, rasanya kekanak-kanakan banget. Mau lari, nggak akan menyelesaikan masalah. Sedih itu pasti, down. Yang aku bisa lakuin ya cuma mencoba menjalani semuanya, walaupun sakitnya kayak apa juga. Tetap harus dilewati. Mungkin belum semua masalah terselesaikan dengan baik, tapi aku udah mulai bisa tersenyum dengan keadaan sekarang ini.
Bingung ya aku ngomongin apa sebenarnya??? Hehehee... Tapi aku rasa aku mulai dapet banyak pelajaran dari kejadian akhir-akhir ini. Pelajaran paling besar adalah bagaimana kita harus menghargai orang-orang disekitar kita. Mencoba menerima mereka apa adanya, mendengarkan mereka, mendampingi mereka, dan kemudian yang tanpa sadar kita dapatkan adalah menjadi seseorang yang lebih dewasa untuk bersikap.
Mungkin nggak banyak orang tahu, bagaimana aku sebenarnya. Temperament, walaupun aku rasa sekarang aku pun masih seperti itu, tapi dulu, sekitar 6-7 tahun lalu sangat-sangat parah. Aku pernah hampir memukul teman laki-lakiku di sekolah, kalau saja salah satu sahabatku yang mungil dan manis itu tidak berusaha memisahkan kami. Berteriak seperti orang gila saat itu, membanting tas yang aku bawa sampai beberapa barang yang ada didalamnya rusak. Rugi bagiku. Namun sekarang, aku mulai merasakan aku sedikit berubah. Sedikit??? Ya, aku masih sering marah-marah, berteriak-teriak dengan kata-kata umpatan yang harusnya tidak boleh disebutkan. Tapi bedanya tidak lagi aku lampiaskan langsung ke orangnya, ending-nya aku nangis sendiri untuk nahan emosiku. Kalau aku masih kayak dulu, nggak tau deh udah ada berapa banyak orang yang aku ajak berantem di sini. Hehehee...
Terus gimana aku mecahin masalahnya??? Jawaban ringannya adalah mencoba bicara dengan orang-orang terdekat, mencari cara terbaik untuk menyelesaikannya. Kalau aku marah atau nggak suka dengan orang lain, mungkin awalnya aku akan menghindar. Bukan berarti aku menghindar selamanya, tapi aku cuma takut emosiku bakal pecah dan omongan kasar yang nggak perlu disebut akhirnya keluar. Nyakitin hati orang, itu yang aku paling hindari saat ini. Mulutku terlalu ceplas-ceplos dan udah banyak korbannya. Aku akan coba berpikir, merenung sendiri, dan menenangkan emosiku. Kalau aku udah siap, aku juga bakal mulai ngomong sama orang itu. Atau kalau aku butuh bantuan orang lain untuk ngomong ke orang itu ya aku bakal minta ke orang yang aku anggap lebih dewasa dan mengerti permasalahan kami dengan baik. Bukan sembarangan orang yang nggak tau apa-apa.

Nggak selamanya orang lain yang salah. Kadangkala kita juga harus berkaca dan melihat ke dalam diri kita, apa yang salah dengan diri kita. Kemudian, mencoba memperbaiki segala. Mungkin terkesan lama dan bertele-tele. Tapi, hasil yang kita dapatkan tidak hanya untuk saat ini. Jangkauannya panjang. Setiap masalah yang kita hadapi, aku yakin, akan mengubah kita, walaupun itu kecil. Kalau tidak ada perubahan dalam diri kita, itu berarti kita tidak pernah belajar. Buatku, kebodohan itu bukan cuma masalah otak, tapi kalau hati kita juga bodoh itu lebih parah karena aku yakin kebodohan dalam hati kita itu akan menyakiti tidak hanya orang-orang di sekitar kita tapi juga diri kita sendiri.

Sedih rasanya masih banyak orang-orang dan terlebih untuk teman-temanku sendiri yang belum satu jalan pikiran denganku tentang pentingnya mendengarkan orang lain, mencoba belajar dari kesalahan, melepaskan segala egoistik yang membuat kita merasa lebih tinggi dan tidak mau mengalah. Mencoba meredakan emosi dan menghindari masalah yang lebih besar dengan hal ini. Mungkin kata-kataku ini akan dianggap just bullshit untuk mereka, tapi ini yang aku rasain. Ketika kita banyak bicara dan mengedepankan emosi dan egoistik, kita nggak akan mau mendengarkan apa yang dikatakan sekitar kita. Menganggap diri kita yang paling tinggi, padahal diri kitalah yang saat itu adalah orang yang paling bodoh. Dan, kita akan menjadi orang-orang yang paling ketinggalan dan rugi besar.
Yahh, harapanku berikutnya ya semoga mereka mau mulai belajar bareng sama aku sekarang ini. Menyelesaikan segala masalah nggak pake emosi, nggak pake rasa egoistik yang terlalu tinggi, dan mulai menggunakan senyuman untuk berpikir lebih dalam lagi. Yyuukk??? Hehehee...

Jumat, 28 Desember 2012

Curcol: Egoismeku


Mencari setiap jejak yang mungkin diikuti, haruskah aku lakukan? Atau yang aku inginkan adalah membuat jejakku sendiri untuk diikuti orang lain. Menarik memang, tapi kesanggupanku rupanya tak sebesar harapanku. Jiwa pemberontak yang bebas tanpa kekangan rupanya membisikkan banyak hal menakutkan bagiku. Mempertanyakan kesanggupan pribadi tentang segala mimpi. Mungkin inilah titik balik dari segala usaha untuk setiap mimpi yang kucoba jalani tanpa beban. Kemudian penyadaran itu datang. Ketidakfokusan dalam diriku sendiri memang membuatku tahu segalanya, dan itu berarti aku tidak menguasai satu hal dengan sungguh-sungguh. May I be a Master of nothing?? Yes, I may be. I am scared about that. Anything I wanna do just disappeared when I heard something more interesting. Is this my fault? Yes, I think.
Dan kemudian tanpa disadari, aku kehilangan kebebasanku, kesendirianku, waktuku untuk diriku sendiri. Egois memang kedengarannya. Namun, hal itu hanya sampai pada saat aku menyadari seberapa egoisnya aku pada tubuhku, otakku, batinku, hatiku. Anything I do just thought to do anything the best. I just try and do in my best. Bukan bermaksud perhitungan atau apapun namanya itu karena aku mendapat banyak hal dalam hidupku, pengalaman, pelajaran, sahabat, keluarga baruku. Tapi, sekali lagi kesanggupanku dipertanyakan.
Kecewa dengan diriku sendiri itu kepastian yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Merasa ingin lebih berkembang, tapi tak pernah sanggup mencapai target yang ditetapkan. Seberapa besar perkembanganku mungkin orang lain bisa lebih banyak melihatnya. Tapi seberapa besar pikiran orang lain berkembang terhadapku, aku yakin aku bisa lebih baik dalam melihat hal ini. Diacuhkan atau mengacuhkan, mana yang akan aku pilih? Aku akan memilih diacuhkan, hal yang rasanya sudah lumrah dalam hidupku. Namun, semua ini ada batasannya. Dan, entah mengapa, aku merasa ini semua sudah diluar dari batas kesanggupanku untuk menahan segala keegoisan dalam benakku.

Note : Aku memang egois, aku menyadari itu, dan aku ingin kalian mengerti itu.

Kamis, 27 September 2012

Pemimpin Perempuan


Mempertanyakan apa yang ada dalam pikiran kita terdengar bagus. Lalu, bolehkah aku mempertanyakan tentang kepemimpinan kaumku? Kaum perempuan. Banyak hal yang ada dalam pikiranku tentang hal ini. Mungkin juga karena ambisiku sebagai perempuan untuk menjadi seorang pemimpin. Ya, bisa disebut sebagai ambisi. Karena aku rasa keinginan ini kadangkala menjadi terlihat berlebihan, baik dari pandangan orang lain maupun pandanganku sendiri. Kenapa? Aku rasa menjadi pemimpin itu menyenangkan, tapi ternyata tidak mudah. Banyak tingkatan kepribadian yang harus dimiliki. Dari beberapa pengalaman yang aku dapatkan, menjadi koordinator itu lebih mudah daripada jadi seorang pemimpin yang bijaksana. Berbeda, sangat berbeda.
Awal pemikiran tentang pemimpin perempuan ini muncul, saat aku tahu bahwa dalam Islam, agama yang menjadi pandangan hidupku, ada semacam perkataan pemimpin itu harus seorang laki-laki. Shock? Awalnya iya. Merasa dibedakan itu pasti. Satu hal yang menjadi pikiran paling berat adalah aku tidak bisa meneruskan apa yang aku inginkan. Ambisiku. Namun, setelah aku cari tahu lebih dalam, Islam tidak sedangkal itu. Lebih mudahnya ada kata-kata bagus yang aku suka, Islam itu telah menempatkan perempuan ditempat yang sepantasnya. Bukan di bawah laki-laki, tapi selalu dibawah tanggung jawab seorang laki-laki. Merasa terlindungi? Itu pasti, dan setelah mengerti tentang hal ini, aku tidak lagi merasa dibatasi.
Kembali pada topik utama, pemimpin perempuan. Dari beberapa bacaan yang aku dapatkan dari internet, aku dapat beranggapan secara pribadi, perempuan dapat menjadi pemimpin dengan ketentuan dan batasan yang tidak dapat dilangkahi. Mencoba mengerti posisi diri, aku rasa merupakan salah satu kunci utamanya. Sebagai seorang perempuan, kita harus memahami dimana kita menjadi pemimpin dan dimana kita menjadi seorang pengikut. Maaf saja, sering aku merasa perempuan yang sudah mempunyai posisi baik dikalangan masyarakat akan lupa dengan posisinya sebagainya perempuan dihadapan Tuhannya. Terlalu sombong untuk mengakui posisinya sebagai tanggung jawab seorang laki-laki. Sebuah kesalahan yang sering sekali terjadi. Semoga kita dapat dihindarkan dari hal ini.
Alasan kenapa aku mendukung perempuan sebagai pemimpin di masyarakat, bukan dalam urusan agama, seperti menjadi manajer, direktur, menteri, bahkan presiden adalah masalah kemampuan. Jika kamu mampu untuk melakukannya, maka lakukanlah. Toh bebas mengekspresikan diri bukan berarti tidak mengikuti aturan yang ada kan? Coba saja cari tahu tentang seorang pemimpin perempuan pada zaman Rasulallah, Asma binti Yazid, seorang perempuan terhormat yang mengabdikan dirinya untuk Islam. Bagaimana ia memimpin kaum perempuan untuk berjuang saat itu. Yang sanggup aku ketahui bahwa perempuan punya peranan tersendiri dalam kehidupan. Ya, itu sudah tentu, untuk apa perempuan diciptakan. Dalam hal ini, aku melihat bahwa ada beberapa aspek dan bidang tertentu yang dapat atau sebaiknya dilakukan oleh perempuan. Kenapa? Tentu saja karena kemampuan perempuan itu sendiri. Perempuan diciptakan dengan kepekaan perasaan yang lebih baik, lebih detail melihat suatu hal, dan biasanya lebih multitasking. Kemampuan macam inilah yang akan menjadi modal untuk seorang pemimpin perempuan yang akan didukung dengan pengetahuan dibidang yang akan ia pimpin. Menurut aku sendiri, ketika kita bersaing dengan kaum laki-laki di tempat kerja dan sebagai perempuan kita dinilai lebih baik dalam memimpin, kenapa tidak kita ambil posisi yang diserahkan pada kita sebagai pemimpin itu. Toh, saat itu kita dinilai lebih mampu, lebih baik, dan yang terpenting kepercayaan diri serta keyakinan kita dalam mengambil posisi itu. Cobalah menjadi orang yang bijaksana dalam menempatkan posisi diri, sekali lagi hal ini menjadi pokok pemikirannya.
 Lalu, apa tanggapan orang lain tentang hal ini? Ada beberapa orang yang aku tanya tentang ini. Secara agama tentu mereka menolak perempuan sebagai pemimpin agama. Namun, untuk memimpin hal lainnya, beberapa orang menyatakan tidak masalah, walaupun ada pula yang masih menolak. Dengan alasan secara kemampuan, laki-laki memang dinilai lebih baik dalam memimpin, lebih stabil, dan lebih menggunakan logika. Aku juga mengakui itu. Ada satu jawaban yang lebih menarik, perempuan atau siapa pun itu bisa menjadi pemimpin sesuai dengan kebutuhan dan keadaan saat itu. Ketika amanat itu datang padamu dan jika kamu tidak mau mengambilnya kemudian akan terjadi hal yang buruk, maka lebih baik kamu memenuhi amanat itu dengan segala kemampuan yang kamu miliki. Karena aku merasa ada saat-saat dimana kita harus melakukan sesuatu itu, sebelum terjadi hal yang lebih buruk dan itu menjadi kewajiban kita untuk mencegahnya. Seperti ada tingkatannya, dari mulai makruh, sunah, sampai wajib. Hehehee.
Penekanan terakhir untuk opiniku tentang masalah ini. Aku mendukung seorang perempuan menjadi pemimpin. Tentunya dengan beberapa syarat. Perempuan itu harus tahu dan mengerti tentang posisinya sebagai makhluk terlindungi yang menjadi tanggung jawab seorang laki-laki. Perempuan itu harus memiliki kemampuan seorang pemimpin yang baik dan memiliki keyakinan dalam menjadi seorang pemimpin yang bijak. Dan menjadi seorang pemimpin akan menjadi sangat wajib ketika kita dihadapkan pada keburukan yang akan terjadi jika kita melepaskan kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin perempuan yang baik, ayo kita perbaiki dulu diri kita sehingga kita mengerti untuk apa kita diciptakan.
Semoga opiniku ini dapat menjadi pertimbangan tersendiri. Bisa juga coba cari tahu tentang posisi wanita dalam Islam dan bagaimana beberapa penulis barat mulai mengakui betapa baiknya penempatan ini. Perbaikan-perbaikan kaum perempuan yang menjadi pembicaraan aku rasa menjadi alasan yang pantas untuk mengetahui hal ini.Dan, TERIMA KASIH sudah membaca opini ini. Ciao....    : )

Jumat, 27 Juli 2012

Cerpen : Penantian


        Penantian itu berat, tidak mudah dilewati, dan tidak mudah dihadapi.  Sampai hari ini pun, aku tidak mengerti pada jalan pikiranku yang terus melakukan satu hal gila itu. Penantian. Kadang kala aku berkata pada diriku sendiri tentang keyakinanku pada penantian ini. Namun, dalam hatiku sendiri, aku belum menemukan satu pun jawaban yang memuaskan pikiranku itu. Hati dan pikiranku memang tak pernah kompak soal ini. Bertentangan dan selalu saja bertentangan. Entah ada apa dengan diriku ini.
         “Hera. Mau ikut keluar nggak? Aku sama yang lainnya mau belanja bulanan nih. Atau mau titip sesuatu mungkin?” Suara Eka, teman satu kost-kostanku, membuyarkan pikiranku yang sedang fokus dengan tugas akhir yang sudah sejak tadi ada di hadapanku ini.
          “Enggak ahh. Aku lagi ada tugas nih. Lagian Mas Revan bilang dia mau kirim email hari ini. Ada kabar bagus katanya.”
        “Mas Revanmu itu mulu yang dijadiin alasan. Emang nggak capek ya nungguin tu orang sampe tiga tahun kayak gini.” Sambil nutup pintu kamarku mulut Eka nggak berhenti ngomel.
         Ya, memang sudah tiga tahun ini aku hanya berhubungan lewat internet dengan kekasihku, Mas Revan. Entah apa yang merasukiku sampai-sampai aku mau menantikan kehadirannya kembali yang entah kapan akan terjadi. Dia mungkin tipe cowok jaman sekarang yang terlalu kaku, atau mungkin juga polos, tapi masalah otak jangan ditanya. Karena asetnya yang satu itu, setelah lulus dari universitas, yang sama dengan tempatku menimba ilmu sekarang, tiga tahun lalu dia langsung mendapatkan penawaran pekerjaan dari perusahaan asing dan sekarang bekerja di Jerman. Selain asetnya yang berharga tinggi itu, wajah yang kalem dan senyumnya yang selalu membuat kerisauanku hilang, mungkin itu semua yang membuatku tetap kukuh pada penantian ini.
         Setelah bosan dengan tugas akhir yang belum kunjung berakhir ini, aku mencoba membuka email. Ada satu kiriman dari mas Revan yang masuk, cepat-cepat saja aku buka. Saat membaca setiap kata-kata yang dia kirimkan, hatiku terasa sesak. Apakah ini akhir dari penantianku atau mungkin ada sesuatu yang salah? Aku mulai berharap hari yang dijanjikannya pada email yang satu ini cepat saja datang. Namun, entah mengapa ada perasaan aneh yang menjalar dalam diriku ini. Darimana datangnya, aku tidak tahu.
        Seminggu telah aku lewati dengan perasaan aneh yang terus menggelanyuti hatiku sejak kubaca email kiriman mas Revan itu. Sekarang aku sedang berdiri menantikan kehadirannya di bandara. Menantikan sosoknya segera ada di hadapanku memang terasa begitu aneh, apalagi  setelah tiga tahun tak pernah menatap dirinya secara langsung. Aku takut kami akan menjadi dingin dan canggung. Namun semua ketakutanku itu sirna sudah ketika ia keluar dari pintu kedatangan, melambaikan tangan kepadaku, dan segera memelukku denga begitu hangat. Dulu ia tidak pernah melakukan hal-hal macam pelukan hangat seperti ini padaku, tiga tahun di Jerman ternyata telah memberi sedikit perubahan padanya.
       “ Loh, ternyata gadisku sudah tambah dewasa dan tambah cantik ya? Rugi aku meninggalkan kamu selama tiga tahun.”
        “Ah, mas ini. Tiga tahun kan bukan waktu yang sebentar untuk merubah penampilan. Karena ditinggal Mas selama itu, aku jadi punya waktu lebih untuk dandan.”
        “Oh iya-ya. Kamu bener juga Dik. Pasti banyak yang mulai deketin kamu ya Dik. Tapi belum ada yang menarik hatimu kan, Dik?” Ada sedikit nada khawatir pada kata-katanya yang terakhir itu. Matanya pun memancarkan perasaan yang sama dan terus menatapku penasaran.
         “Aku kan gadisnya Mas yang paling setia. Tenang aja Mas, belum ada yang seperti  Mas kok.” Aku mencoba menenangkannya sambil menggandengnya untuk mengajaknya segera melangkah ke tempat taxi-taxi yang berjajar. Setelah dari bandara ini kami akan langsung menuju rumah keluarga Mas Revan.
         Di perjalanan tidak banyak yang kami perbincangkan, hanya seputar pekerjaan mas Revan ataupun kuliahku selama kami terpisahkan jarak selama tiga tahun. Hanya saja sesekali dia menggenggam tanganku lebih erat dari biasanya. Aku mulai menyadari  bahwa dia merindukanku melebihi  kerinduan yang aku pendam selama ini. Senyumnya memang tak pernah berubah, masih sama tenteramnya seperti dulu. Namun, penampilannya saat ini jauh lebih menarik dari sebelum dia meninggalkan negara ini, mungkin karena rambutnya yang lebih bergaya dan keren. Apalagi cara berpakaiannya pun sudah tidak sekuno dulu lagi. Tak salah aku memperbaiki penampilanku selama ini. Coba kalau aku masih tetap pada gayaku yang cuek, pasti kebanting dengan gaya mas Revan yang sudah sekeren ini.

         Sesampainya di rumah keluarga besar mas Revan, semuanya sudah menunggu. Ibu, panggilanku untuk ibu mas Revan, sudah mempersiapkan segala macam makanan khas Jogja untuk anak laki-laki tertuanya ini. Ya, mas Revan adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Mbak Asti, kakak mas Revan, sudah menikah tiga tahun lalu sebelum mas Revan berangkat ke Jerman dan Radit, si anak bungsu, satu tahun lebih muda dariku dan merupakan adik angkatanku di kampus. Sedangkan bapak, yang langsung berdiri dari duduknya untuk menyambut anak laki-laki kebanggaannya, masih bekerja disebuah instansi pemerintahan di Jogja. Keluarga ini sungguh hangat. Mereka mampu membuatku betah berada diantara mereka, walaupun aku adalah orang luar saat ini. Bahkan selama mas Revan ada di Jerman aku tetap disambut hangat oleh mereka, terutama ibu yang sudah kuanggap seperti mamaku yang harus meninggalkanku ketika aku berumur enam belas tahun karena kanker yang menyerangnya selama tiga tahun lebih.
      Hidupku memang terasa kembali bersemangat sejak kedatangan mas Revan, dapat menyandarkan sedikit beban tugas akhir yang harus aku selesaikan secepatnya. Paling tidak keceriaanku bertambah, walau kami hanya punya waktu selama seminggu. Waktu yang terasa begitu singkat bagiku yang menanti selama tiga tahun lamanya. Apalagi tidak hanya aku yang harus mas Revan temui. Masih banyak sanak saudara dan sahabat-sahabatnya ,yang sama sepertiku, menginginkan bertemu langsung dengannya. Sebisa mungkin aku mendampinginya jika aku tidak ada kegiatan perkuliahan. Mas Revan memang tidak mau hubungan kami ini mengganggu urusan kuliah dan karir kami masing-masing, komitmen yang masih terjaga diantara kami. Dukunganlah yang paling penting dalam hubungan kami ini, hal macam inilah yang kami terapkan dari awal.
        “Dik. Besok Mas harus sudah balik lagi ke tempat kerja. Maaf ya kalau Mas nggak bisa nemenin lama-lama di sini. Masih ada tanggung jawab lain yang harus Mas selesaikan. “ Mas Revan membuka pembicaraan saat kami tengah berjalan menyusuri pantai di sore itu.
      “Iya, Mas. Aku tahu kok. Mas tenang aja. Aku ngerti.” Walau terasa agak berat sebenarnya melepaskan Mas Revan yang baru beberapa hari ada bersamaku.
        “Tapi Mas janji, Dik. Mas akan pulang secepatnya.” Aku hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya. Entah apa yang kurasakan, tapi aku hanya mampu terdiam tanpa berkata apapun dan hanya mengikuti jejak-jejak langkah kakinya. Aku merasa aneh sore ini, merasakan ketidakrelaan yang besar untuk melepaskannya. Aku sendiri hanya mampu menghela nafas berat untuk menenangkan diri dan mengeratkan genggaman tanganku pada tangan mas revan yang terasa lebih hangat.
Jawaban dari perasaan aneh sore itu terjawab sudah dengan kabar yang aku dengar sendiri dari kata-kata Radit. Jawaban yang aku sendiri tidak pernah mau mendengarnya. Tidak pernah mau mengetahui hal macam ini kalau aku bisa. Seketika memang semuanya menjadi buram dan kemudian tubuhku lemas dengan gelap yang melingkupi saat itu juga. Tak pernah menyangka semua ini akan terjadi padaku lagi dan yang aku tahu ketika aku terbangun hanyalah air mata yang membanjiri hariku dengan kejamnya pada hari ini. Karena, keesokan harinya air mataku telah habis untuk mengantarkannya pada tempat tujuan terakhir.
Aku hanya sanggup bersandar pada tubuh Eka, yang tanpa pernah terlihat lelah akibat menemaniku sejak aku jatuh pingsan kemarin. Ya, hari ini aku menyaksikan sendiri tubuh laki-laki yang aku sayangi dibaringkan di tempat peristirahatan terkhirnya, setelah dengan perjuangan kerasnya melawan segala luka parah yang diderita akibat kecelakaan sebelum ia berangkat ke bandara. Semuanya terasa begitu cepat bagiku untuk merasakan kehilangan lagi dalam hidupku. Satu-satunya obat yang sedikit mengurangi rasa sakitku hanya sebuah catatan kecil yang tertulis pada buku catatan Mas Revan.

“Andaikan aku tidak bisa membalas segala penantian terbaik yang ia berikan untukku Yaa Tuhan, biarkanlah ia menemukan seseorang yang lebih baik dariku”

              Tidak ada yang lebih aku mengerti dalam tulisan itu, kecuali perasaanku yang dibalasnya dengan sepenuh hati. Dan hal ini sudah cukup untuk membalas segala penantian yang telah aku lakukan selama tiga tahun terakhir ini. Semoga jawaban dalam hatiku ini sanggup mengantarkan mas Revan yang telah berangkat lebih dulu ke surga.

Cari Kosan Baru


Teringat dengan awal pertama kali datang ke Jogja. Bukan pertama kali juga sebenarnya, cuma ya sebelum ini numpang lewat doank. Waktu itu niat datang ke Jogja untuk menjadikan Jogja sebagai rumah kedua, alias mau kuliah di sini, Jogja maksudnya. Asing. Nggak ada saudara, kalo temen sih ada. Maklum ya, aku telat setaun, jadi teman-temanku udah di Jogja duluan. Dan pada saat itu  dengan PD-nya bapak udah pesenin kosan, dari sebelum pengumuman SNMPTN. Feelingnya pas banget, tempatnya enak, gak mau pindah-pindah lagi ahh... hehehehe....
Mengingat-ingat itu terkadang buat kita tertawa sendiri, atau malah menangis sendirian di kamar. Terus kenapa aku inget masa2 awal aku di sini??? Semuanya bikin aku tertawa heran, soalnya baru kerasa aja, udah beberapa bulan jadi orang Jogja. Bahkan waktu pulkam ke Pekalongan, kerasanya pingin balik ke Jogja dengan rutinitas anak kosan. Padahal waktu di Jogja malah pingin pulang, malah kadang kala berasa Pekalongan-Jogja itu deket (5-6 jam naik travel biasanya).
Tenang-tenang ini bukan Cuma omong kosong belaka. Hehehee. Aku mau ng-share pengalaman awal anak kosan, apa aja yang dibutuhin untuk pertama kali, dan apa aja yang perlu dilihat dari segala fasilitas kosan  yang ditawarkan.
1.      Kosan Phisically
Yang pertama harus dilihat sebelum ngekos pasti bentukan kamar kosnya. Mulai dari fasilitas yang udah ada sampai kebersihan kamar mandinya. Penting nih buat diperhatikan untuk kelangsungan kebersihan pribadi juga. Soalnya buat orang yang rada-rada males kayak aku, bakal milih kosan yang tanggung jawab kebersihannya dibantu sama orang lain. Jadi, tanggung jawab yang aku pegang ya cuma kamarku aja. Nggak kebanyakan bersih-bersih. hehehee
2.      Aturan kosan
Seberapa ketat aturan kosan juga harus diperhatiin mulai dari siapa aja yang boleh masuk sampai jam malamnya. Kalau ditempat kosanku yang sekarang sih peraturan yang paling menggiurkan buat aku yang lebih seneng bebas ya gak adanya jam malam. Eeiittss... jangan salah sangka dulu, ini semua sih dikarenakan kebebasan untuk bisa ngerjain tugas atau mungkin aja ada kegiatan organisasi diluar yang bisa aja sampe malam. Jadi, gak keburu-buru ngerjain tugasnya. Ya, walaupun jangan keterlaluan juga pulangnya, pasti ditanyain bapak kos juga kalo pulang malem. Masih ada pemantauan dari orang kosan lahh pokoknya.
Oh iya, yang boleh masuk kosan juga gak sembarangan orang. Kalo bukan keluarga, laki-laki dilarang masuk, kecuali dengan alasan-alasan tertentu. Misalnya nih mas-mas tukang galon atau gas, atau bisa juga tukang dan temen yang bantuin pindahan atau benerin sesuatu dikosan. Buat aku sendiri, aturan yang baik itu gak terlalu mengikat tapi tetep ada pengawasan. Paling gak, itu idealnya menurutku secara pribadi.
3.      Barang-barang yang dibutuhin
Liat juga semua fasilitas yang dikasih dari kosan, biasanya sih sesuai dengan harga yang ditawarin. Semakin banyak barang yang udah disediain semakin sedikit barang yang kita harus beli kan? hehehee
4.      Tempat makan
Hal penting lainnya yang perlu diketahui secepatnya setelah menentukan tempat kosan sih, buat aku, ya tempat makan. Sering banget anak kosan itu males makan atau lupa makan Cuma karena tempat makannya jauh. Tapi tenang aja, kalau buat daerah yang banyak kosan, pasti banyak tempat makan. Tapi juga perlu disurvei dulu ya tempatnya, pasti nanti bakalan ada satu tempat yang jadi favorite dan pas sama lidah kita masing-masing. Kalo aku sih sampe butuh sebulanan buat icip-icip tempat makan deket kosan. hehehehehee
5.      Tempat beli barang bulanan
Buat anak kos baru, jangan lupa juga cari toko atau warung yang jual barang kebutuhan sehari-hari. Kan gak setiap hari juga kita bisa ke super market untuk cari kebutuhan yang dadakan harus ada hari itu juga. Jangan lupa tanya-tanya super market mana yang lebih murah untuk barang bulanannya. Namanya juga anak kos. hehehee
6.      Jarak dan waktu ke kampus
Ini juga nih yang bakal jadi pertimbangan penting untuk menentukan kosan mana yang bakal kita pilih. Kita harus tahu dimana kosan dan dimana kampus kita. Jalan yang lebih cepat untuk sampai ke kampus juga harus dicari secepat mungkin. Gak papa lahh kalo awal-awal di tempat baru, nyasar-nyasar dikit gara-gara penasaran.hehehee... *pengalaman pribadi*
Yahhh... untuk sementara sih segini dulu aja sharing pengalamanku. Semoga bermanfaat buat yang relain waktunya buat baca... hehehee... cayoo !!!

Selasa, 03 Juli 2012

Maaf...


Ketika kemarahan menghinggapi hati, tak tahu aku harus berbuat apa. Semua terasa buram dan tak berbentuk. Semuanya benar-benar mengarahkan emosi ini hanya pada diri sendiri. Kemudian, mulai bertanya, “ kesalahan macam apa yang telah kuperbuat? ”. Sekali lagi buram. Aku tak mengerti. Apakah hanya ini kemampuan yang aku miliki? Apakah hanya ini saja yang dapat aku lakukan? Rasanya ingin berteriak. Menyalahkan diri sendiri.
Aku seperti berada pada lembah sempit yang didampingi dua tebing indah. Merasa terjebak pada keindahan  yang tidak dapat dipungkiri. Menyesal itu tak mungkin lagi. Tak berguna. Aku merasa aku sendiri yang menjatuhkan diriku di tempat ini. AAAAAAA.... kenapa semua ini? Dan kemudian aku merindukan kesendirianku yang terasa telah lama menghilang. Kemana aku harus pergi untuk mencarinya? Pertanyaan besar yang entah kapan akan terjawab.
Kalau saja mungkin aku kembali pada waktu aku dapat memilih. Kalau saja. Tapi, akankah aku tahu aku akan memilih yang mana? Keduanya sama-sama indah, sama bermaknanya bagi jalanku. Aku tak mau melepaskan keduanya. Egois, mungkin ya, aku mengakuinya. Serakah? Sudah pasti kata berbeda yang akan muncul kali ini. Dan, sekali lagi aku merasa buram, tak tahu arah.
Aku mungkin memang tak bertanggung jawab. Menyakiti hati banyak orang dengan pilihanku. Tak banyak aku dapat lakukan selain tertunduk lesu. Meminta maaf dengan segala kerendahan hati dan keterbatasanku sebagai manusia. Andai saja mereka mendengarnya. Andai saja mereka mau mendengarnya. Andai saja mereka mau mengerti posisiku yang ada di antara dua tebing indah yang begitu mempesona.