Laman

Jumat, 11 Oktober 2013

Mimpi & Keinginan

Dunia ini hanya sementara kan?
Hanya tempat singgah sementara
Lalu, apakah jalan hidupmu ini sudah sesuai?
bagaimana dengan mimpi dan keinginanmu?
Sudahkah langkahmu mengarah ke sana?
Mungkin lebih mudah mengarahkan mimpi
namun, keinginanku masih tetap bimbang
Tak pernahkah sesuai dengan bakat yang ada?
Aku rasa aku hanya belum dapat menyatukannya
Perlukah aku berdiam diri memikirkannya?
Mungkin aku hanya perlu waktu sendiri
Biarkan aku termenung sendirian, berpikir
Mencari jawaban tentang jalan takdirku
Tanpa pendapat orang lain, hanya aku sendiri
Namun terkadang takdir punya caranya sendiri
Ia datang dan membuka jalan yang berbeda
Lalu, apakah aku harus menunggunya?
Kembali termenung dan berpikir
Dan sebuah pertanyaan kembali terulang
Bagaimana dengan mimpi dan keinginanku?

Senin, 07 Oktober 2013

Harga Diri Perempuan

Bukan hal aneh kalau perempuan itu lebih dijaga, mereka kan perhiasan dunia...
bukan hal yang buat kita merugi kok, sebagai perempuan, untuk menjaga harga diri...
mengerti setiap batasan diri untuk melangkah lebih jauh...
ada perkataan bahwa perempuan itu dinilai dari masa lalunya, cobalah jadikan ini sebuah patokan...
sebuah alasan kenapa kita, perempuan, harus tahu caranya menjaga harga diri...
andaikan kita mempunyai permata, tidak akan kita umbar di halaman rumah tanpa penjagaan...

Perempuan memang punya keterbatasan, tapi tidak berarti kita harus menyerah...
batas-batas perilaku memang harus tetap dijaga, mengerti kewajiban dan cara2 apa yg harus kita lakukan...
tapi kita juga punya hak yang sama dengan laki-laki, hanya saja dengan cara yang berbeda...
jadilah perempuan luar biasa pada kemampuanmu dan keterbatasanmu itu...
jadilah makhluk yang selalu dilindungi, tapi bukan makhluk yang lemah akibat perlindungan itu...
jadilah makhluk penyayang dengan perasaanmu yang kuat dan lembut...

Menjaga harga diri, hanya perlu mengetahui dan melakukan sadar diri...
sadar diri memang sulit, aku pun merasakan itu...
larangan-larangan yg ada bukan berarti membatasi kita sebagai perempuan untuk bertindak...
hanya saja itu sebagai bentuk kasih sayang dunia kepada kita, perempuan, sebagai permatanya...
kemarahan-kemarahan pada tindakan yang tidak tahu malu yang dilakukan seorang perempuan, hanya sedikit dari kasih sayang manusia padanya...
aturan-aturan agama tentang perempuan sebagai makhluk yg selalu ada dibawah tanggung jawab seorang laki-laki, hanyalah secuil rasa cinta Sang Pencipta untuk mereka...

Kalau dunia, sesama manusia, dan Sang Pencipta saja sudah sepeduli itu pada diri kita...
tidakkah kita berpikir kembali untuk menyayangi diri kita sendiri, wahai perempuan???
tidakkah berpikir seberapa besar usaha mereka melindungi harga diri kita sebagai perempuan???
ingatlah masa lalu memang takkan dapat diubah, tapi masih ada masa depan...
tinggalkan kesalahan-kesalahan masa lalu sebagai guru untuk meraih masa depan...
Kenali diri kita sebagai perempuan, sadar diri, dan melangkah untuk perbaikan diri dan perbaikan umat manusia...

*Semoga bisa jadi bahan instropeksi diri sendiri juga...

SIAPKAN DIRI JADI PEREMPUAN LUAR BIASA !!!!

Senin, 15 April 2013

CurCol: Sifat Diri


Saat kekesalan pada diri ini memuncak.
Saat mempertanyakan kenapa orang-orang bersikap seperti tidak mau tahu lagi tentangku.
Saat mempertanyakan kenapa aku bersikap seperti ini dan itu.
Satu kalimat tidak sengaja menyadarkanku.
Tuhan tidak akan memberikan sifat-sifat dirimu hanya untuk disia-siakan.
Semua yang Tuhan lakukan pasti ada maksud dan tujuannya.
Tapi apa itu? Aku belum tahu pasti.
Tapi jalannya untuk mendapatkan jawaban itu rasanya terlalu terjal untuk dilewati.
Menghabiskan semangat yang terpupuk sejak lama bersama tawa.
Risau untuk tahu jawabannya secepatnya.
Benar-benar tidak sabar, tapi juga tidak tahu harus melakukan apa.
Seharusnya aku nekat saja melabrak dan mempertanyakannya,
tapi yang aku lakukan hanya tertunduk lesu tak mengerti apa-apa.
Menyadari betapa bodohnya diriku yang harus terus bergantung pada orang lain.
Betapa bodohnya diriku yang membuat orang lain merasa terjatuh dan tak bersemangat.
Aku mohon, maafkanlah si bodoh yang tidak berperasaan ini.
Si bodoh yang sudah dengan sukses membuat dirinya dibenci banyak orang.

Kamis, 14 Maret 2013

Curcol : Kedewasaan



Menjadi dewasa itu proses dan akupun masih dalam proses itu. Aku masih sering kekanak-kanakan dengan sikap yang sebenarnya nggak perlu dilakuin di depan banyak orang. Tapi, itulah aku sekarang. Aku yang ceplas-ceplos, suka ketawa keras-keras, masih suka nelat sana-sini, panik dengan masalah kecil, dan pada akhirnya nangis sendirian untuk menghibur diri. Kemudian, aku berpikir, kapan aku menjadi dewasa???
Menjadi dewasa itu nggak cuma masalah sikap dan cara bicara aja. Tapi buat aku yang paling penting untuk menjadi dewasa adalah bagaimana cara kita berpikir, bagaimana cara pandang kita pada suatu permasalahan, bagaimana cara kita menyelesaikannya, dan pada akhirnya bagaimana kita harus mengimprove diri kita sendiri. Sulit dan butuh waktu panjang. Terlebih lagi kita harusnya mulai melihat segala masalah bukan lagi cuma dari sisi kesalahan yang dilakukan orang lain, tapi kesalahan macam apa yang sudah kita lakukan.
Jangan cuma nyalah-nyalahin orang lain, tapi juga berpikir apakah kita sudah melakukan sesuatu itu dengan cukup baik, apakah kita sudah memberikan cukup, atau apakah kita sudah memberikan yang lebih baik dari orang lain.
Kalau orang lain tidak beranggapan sama dengan kita, jangan cuma ngotot kalau orang lain yang salah dan diri kita selalu benar. Mau menang sendiri dan pada akhirnya bicara yang nggak penting dan nyakitin hati orang lain.
Dua hal di atas, aku sendiri masih sering melakukan. Diluar kontrolku, aku tahu masih banyak yang sakit hati dengan sikap-sikapku. But, I’m trying become better and better. Karena aku juga ngerasain gimana capek dan keselnya berurusan dengan orang yang cara berpikirnya masih kekanak-kanakan banget. Berasa ketemu diriku enam tahun lalu. Eh, malah ngomongin orang, tapi mungkin kalau nggak karena kasihan sama orang itu dan bingung harus ngapain lagi, aku nggak bakal nulis curcol ini.
Ayolah, kita bareng-bareng berusaha untuk bersikap dan berpikir lebih dewasa dan nggak childish lagi kayak gini. Tumbuh bersama-sama menjadi seseorang yang lebih kokoh dan tidak mudah tumbang hanya karena masalah kecil.

Curcol : Emosi dan Egoistik


Harusnya malam ini aku selesaiin laporan praktikum yang deadlinenya besok siang, tapi bukannya buka bahan-bahannya aku malah kepikiran buat nulis sesuatu. Entah ini hal besar yang terjadi dalam hidupku atau bukan, tapi yang pasti,  sekarang ini buatku adalah masa-masa sulit untuk dilewati. Mau nangis, rasanya kekanak-kanakan banget. Mau lari, nggak akan menyelesaikan masalah. Sedih itu pasti, down. Yang aku bisa lakuin ya cuma mencoba menjalani semuanya, walaupun sakitnya kayak apa juga. Tetap harus dilewati. Mungkin belum semua masalah terselesaikan dengan baik, tapi aku udah mulai bisa tersenyum dengan keadaan sekarang ini.
Bingung ya aku ngomongin apa sebenarnya??? Hehehee... Tapi aku rasa aku mulai dapet banyak pelajaran dari kejadian akhir-akhir ini. Pelajaran paling besar adalah bagaimana kita harus menghargai orang-orang disekitar kita. Mencoba menerima mereka apa adanya, mendengarkan mereka, mendampingi mereka, dan kemudian yang tanpa sadar kita dapatkan adalah menjadi seseorang yang lebih dewasa untuk bersikap.
Mungkin nggak banyak orang tahu, bagaimana aku sebenarnya. Temperament, walaupun aku rasa sekarang aku pun masih seperti itu, tapi dulu, sekitar 6-7 tahun lalu sangat-sangat parah. Aku pernah hampir memukul teman laki-lakiku di sekolah, kalau saja salah satu sahabatku yang mungil dan manis itu tidak berusaha memisahkan kami. Berteriak seperti orang gila saat itu, membanting tas yang aku bawa sampai beberapa barang yang ada didalamnya rusak. Rugi bagiku. Namun sekarang, aku mulai merasakan aku sedikit berubah. Sedikit??? Ya, aku masih sering marah-marah, berteriak-teriak dengan kata-kata umpatan yang harusnya tidak boleh disebutkan. Tapi bedanya tidak lagi aku lampiaskan langsung ke orangnya, ending-nya aku nangis sendiri untuk nahan emosiku. Kalau aku masih kayak dulu, nggak tau deh udah ada berapa banyak orang yang aku ajak berantem di sini. Hehehee...
Terus gimana aku mecahin masalahnya??? Jawaban ringannya adalah mencoba bicara dengan orang-orang terdekat, mencari cara terbaik untuk menyelesaikannya. Kalau aku marah atau nggak suka dengan orang lain, mungkin awalnya aku akan menghindar. Bukan berarti aku menghindar selamanya, tapi aku cuma takut emosiku bakal pecah dan omongan kasar yang nggak perlu disebut akhirnya keluar. Nyakitin hati orang, itu yang aku paling hindari saat ini. Mulutku terlalu ceplas-ceplos dan udah banyak korbannya. Aku akan coba berpikir, merenung sendiri, dan menenangkan emosiku. Kalau aku udah siap, aku juga bakal mulai ngomong sama orang itu. Atau kalau aku butuh bantuan orang lain untuk ngomong ke orang itu ya aku bakal minta ke orang yang aku anggap lebih dewasa dan mengerti permasalahan kami dengan baik. Bukan sembarangan orang yang nggak tau apa-apa.

Nggak selamanya orang lain yang salah. Kadangkala kita juga harus berkaca dan melihat ke dalam diri kita, apa yang salah dengan diri kita. Kemudian, mencoba memperbaiki segala. Mungkin terkesan lama dan bertele-tele. Tapi, hasil yang kita dapatkan tidak hanya untuk saat ini. Jangkauannya panjang. Setiap masalah yang kita hadapi, aku yakin, akan mengubah kita, walaupun itu kecil. Kalau tidak ada perubahan dalam diri kita, itu berarti kita tidak pernah belajar. Buatku, kebodohan itu bukan cuma masalah otak, tapi kalau hati kita juga bodoh itu lebih parah karena aku yakin kebodohan dalam hati kita itu akan menyakiti tidak hanya orang-orang di sekitar kita tapi juga diri kita sendiri.

Sedih rasanya masih banyak orang-orang dan terlebih untuk teman-temanku sendiri yang belum satu jalan pikiran denganku tentang pentingnya mendengarkan orang lain, mencoba belajar dari kesalahan, melepaskan segala egoistik yang membuat kita merasa lebih tinggi dan tidak mau mengalah. Mencoba meredakan emosi dan menghindari masalah yang lebih besar dengan hal ini. Mungkin kata-kataku ini akan dianggap just bullshit untuk mereka, tapi ini yang aku rasain. Ketika kita banyak bicara dan mengedepankan emosi dan egoistik, kita nggak akan mau mendengarkan apa yang dikatakan sekitar kita. Menganggap diri kita yang paling tinggi, padahal diri kitalah yang saat itu adalah orang yang paling bodoh. Dan, kita akan menjadi orang-orang yang paling ketinggalan dan rugi besar.
Yahh, harapanku berikutnya ya semoga mereka mau mulai belajar bareng sama aku sekarang ini. Menyelesaikan segala masalah nggak pake emosi, nggak pake rasa egoistik yang terlalu tinggi, dan mulai menggunakan senyuman untuk berpikir lebih dalam lagi. Yyuukk??? Hehehee...

Jumat, 28 Desember 2012

Curcol: Egoismeku


Mencari setiap jejak yang mungkin diikuti, haruskah aku lakukan? Atau yang aku inginkan adalah membuat jejakku sendiri untuk diikuti orang lain. Menarik memang, tapi kesanggupanku rupanya tak sebesar harapanku. Jiwa pemberontak yang bebas tanpa kekangan rupanya membisikkan banyak hal menakutkan bagiku. Mempertanyakan kesanggupan pribadi tentang segala mimpi. Mungkin inilah titik balik dari segala usaha untuk setiap mimpi yang kucoba jalani tanpa beban. Kemudian penyadaran itu datang. Ketidakfokusan dalam diriku sendiri memang membuatku tahu segalanya, dan itu berarti aku tidak menguasai satu hal dengan sungguh-sungguh. May I be a Master of nothing?? Yes, I may be. I am scared about that. Anything I wanna do just disappeared when I heard something more interesting. Is this my fault? Yes, I think.
Dan kemudian tanpa disadari, aku kehilangan kebebasanku, kesendirianku, waktuku untuk diriku sendiri. Egois memang kedengarannya. Namun, hal itu hanya sampai pada saat aku menyadari seberapa egoisnya aku pada tubuhku, otakku, batinku, hatiku. Anything I do just thought to do anything the best. I just try and do in my best. Bukan bermaksud perhitungan atau apapun namanya itu karena aku mendapat banyak hal dalam hidupku, pengalaman, pelajaran, sahabat, keluarga baruku. Tapi, sekali lagi kesanggupanku dipertanyakan.
Kecewa dengan diriku sendiri itu kepastian yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Merasa ingin lebih berkembang, tapi tak pernah sanggup mencapai target yang ditetapkan. Seberapa besar perkembanganku mungkin orang lain bisa lebih banyak melihatnya. Tapi seberapa besar pikiran orang lain berkembang terhadapku, aku yakin aku bisa lebih baik dalam melihat hal ini. Diacuhkan atau mengacuhkan, mana yang akan aku pilih? Aku akan memilih diacuhkan, hal yang rasanya sudah lumrah dalam hidupku. Namun, semua ini ada batasannya. Dan, entah mengapa, aku merasa ini semua sudah diluar dari batas kesanggupanku untuk menahan segala keegoisan dalam benakku.

Note : Aku memang egois, aku menyadari itu, dan aku ingin kalian mengerti itu.

Kamis, 27 September 2012

Pemimpin Perempuan


Mempertanyakan apa yang ada dalam pikiran kita terdengar bagus. Lalu, bolehkah aku mempertanyakan tentang kepemimpinan kaumku? Kaum perempuan. Banyak hal yang ada dalam pikiranku tentang hal ini. Mungkin juga karena ambisiku sebagai perempuan untuk menjadi seorang pemimpin. Ya, bisa disebut sebagai ambisi. Karena aku rasa keinginan ini kadangkala menjadi terlihat berlebihan, baik dari pandangan orang lain maupun pandanganku sendiri. Kenapa? Aku rasa menjadi pemimpin itu menyenangkan, tapi ternyata tidak mudah. Banyak tingkatan kepribadian yang harus dimiliki. Dari beberapa pengalaman yang aku dapatkan, menjadi koordinator itu lebih mudah daripada jadi seorang pemimpin yang bijaksana. Berbeda, sangat berbeda.
Awal pemikiran tentang pemimpin perempuan ini muncul, saat aku tahu bahwa dalam Islam, agama yang menjadi pandangan hidupku, ada semacam perkataan pemimpin itu harus seorang laki-laki. Shock? Awalnya iya. Merasa dibedakan itu pasti. Satu hal yang menjadi pikiran paling berat adalah aku tidak bisa meneruskan apa yang aku inginkan. Ambisiku. Namun, setelah aku cari tahu lebih dalam, Islam tidak sedangkal itu. Lebih mudahnya ada kata-kata bagus yang aku suka, Islam itu telah menempatkan perempuan ditempat yang sepantasnya. Bukan di bawah laki-laki, tapi selalu dibawah tanggung jawab seorang laki-laki. Merasa terlindungi? Itu pasti, dan setelah mengerti tentang hal ini, aku tidak lagi merasa dibatasi.
Kembali pada topik utama, pemimpin perempuan. Dari beberapa bacaan yang aku dapatkan dari internet, aku dapat beranggapan secara pribadi, perempuan dapat menjadi pemimpin dengan ketentuan dan batasan yang tidak dapat dilangkahi. Mencoba mengerti posisi diri, aku rasa merupakan salah satu kunci utamanya. Sebagai seorang perempuan, kita harus memahami dimana kita menjadi pemimpin dan dimana kita menjadi seorang pengikut. Maaf saja, sering aku merasa perempuan yang sudah mempunyai posisi baik dikalangan masyarakat akan lupa dengan posisinya sebagainya perempuan dihadapan Tuhannya. Terlalu sombong untuk mengakui posisinya sebagai tanggung jawab seorang laki-laki. Sebuah kesalahan yang sering sekali terjadi. Semoga kita dapat dihindarkan dari hal ini.
Alasan kenapa aku mendukung perempuan sebagai pemimpin di masyarakat, bukan dalam urusan agama, seperti menjadi manajer, direktur, menteri, bahkan presiden adalah masalah kemampuan. Jika kamu mampu untuk melakukannya, maka lakukanlah. Toh bebas mengekspresikan diri bukan berarti tidak mengikuti aturan yang ada kan? Coba saja cari tahu tentang seorang pemimpin perempuan pada zaman Rasulallah, Asma binti Yazid, seorang perempuan terhormat yang mengabdikan dirinya untuk Islam. Bagaimana ia memimpin kaum perempuan untuk berjuang saat itu. Yang sanggup aku ketahui bahwa perempuan punya peranan tersendiri dalam kehidupan. Ya, itu sudah tentu, untuk apa perempuan diciptakan. Dalam hal ini, aku melihat bahwa ada beberapa aspek dan bidang tertentu yang dapat atau sebaiknya dilakukan oleh perempuan. Kenapa? Tentu saja karena kemampuan perempuan itu sendiri. Perempuan diciptakan dengan kepekaan perasaan yang lebih baik, lebih detail melihat suatu hal, dan biasanya lebih multitasking. Kemampuan macam inilah yang akan menjadi modal untuk seorang pemimpin perempuan yang akan didukung dengan pengetahuan dibidang yang akan ia pimpin. Menurut aku sendiri, ketika kita bersaing dengan kaum laki-laki di tempat kerja dan sebagai perempuan kita dinilai lebih baik dalam memimpin, kenapa tidak kita ambil posisi yang diserahkan pada kita sebagai pemimpin itu. Toh, saat itu kita dinilai lebih mampu, lebih baik, dan yang terpenting kepercayaan diri serta keyakinan kita dalam mengambil posisi itu. Cobalah menjadi orang yang bijaksana dalam menempatkan posisi diri, sekali lagi hal ini menjadi pokok pemikirannya.
 Lalu, apa tanggapan orang lain tentang hal ini? Ada beberapa orang yang aku tanya tentang ini. Secara agama tentu mereka menolak perempuan sebagai pemimpin agama. Namun, untuk memimpin hal lainnya, beberapa orang menyatakan tidak masalah, walaupun ada pula yang masih menolak. Dengan alasan secara kemampuan, laki-laki memang dinilai lebih baik dalam memimpin, lebih stabil, dan lebih menggunakan logika. Aku juga mengakui itu. Ada satu jawaban yang lebih menarik, perempuan atau siapa pun itu bisa menjadi pemimpin sesuai dengan kebutuhan dan keadaan saat itu. Ketika amanat itu datang padamu dan jika kamu tidak mau mengambilnya kemudian akan terjadi hal yang buruk, maka lebih baik kamu memenuhi amanat itu dengan segala kemampuan yang kamu miliki. Karena aku merasa ada saat-saat dimana kita harus melakukan sesuatu itu, sebelum terjadi hal yang lebih buruk dan itu menjadi kewajiban kita untuk mencegahnya. Seperti ada tingkatannya, dari mulai makruh, sunah, sampai wajib. Hehehee.
Penekanan terakhir untuk opiniku tentang masalah ini. Aku mendukung seorang perempuan menjadi pemimpin. Tentunya dengan beberapa syarat. Perempuan itu harus tahu dan mengerti tentang posisinya sebagai makhluk terlindungi yang menjadi tanggung jawab seorang laki-laki. Perempuan itu harus memiliki kemampuan seorang pemimpin yang baik dan memiliki keyakinan dalam menjadi seorang pemimpin yang bijak. Dan menjadi seorang pemimpin akan menjadi sangat wajib ketika kita dihadapkan pada keburukan yang akan terjadi jika kita melepaskan kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin perempuan yang baik, ayo kita perbaiki dulu diri kita sehingga kita mengerti untuk apa kita diciptakan.
Semoga opiniku ini dapat menjadi pertimbangan tersendiri. Bisa juga coba cari tahu tentang posisi wanita dalam Islam dan bagaimana beberapa penulis barat mulai mengakui betapa baiknya penempatan ini. Perbaikan-perbaikan kaum perempuan yang menjadi pembicaraan aku rasa menjadi alasan yang pantas untuk mengetahui hal ini.Dan, TERIMA KASIH sudah membaca opini ini. Ciao....    : )