Dunia ini hanya sementara kan?
Hanya tempat singgah sementara
Lalu, apakah jalan hidupmu ini sudah sesuai?
bagaimana dengan mimpi dan keinginanmu?
Sudahkah langkahmu mengarah ke sana?
Mungkin lebih mudah mengarahkan mimpi
namun, keinginanku masih tetap bimbang
Tak pernahkah sesuai dengan bakat yang ada?
Aku rasa aku hanya belum dapat menyatukannya
Perlukah aku berdiam diri memikirkannya?
Mungkin aku hanya perlu waktu sendiri
Biarkan aku termenung sendirian, berpikir
Mencari jawaban tentang jalan takdirku
Tanpa pendapat orang lain, hanya aku sendiri
Namun terkadang takdir punya caranya sendiri
Ia datang dan membuka jalan yang berbeda
Lalu, apakah aku harus menunggunya?
Kembali termenung dan berpikir
Dan sebuah pertanyaan kembali terulang
Bagaimana dengan mimpi dan keinginanku?
Jumat, 11 Oktober 2013
Senin, 07 Oktober 2013
Harga Diri Perempuan
Bukan hal aneh kalau perempuan itu lebih dijaga, mereka kan perhiasan dunia...
bukan hal yang buat kita merugi kok, sebagai perempuan, untuk menjaga harga diri...
mengerti setiap batasan diri untuk melangkah lebih jauh...
ada perkataan bahwa perempuan itu dinilai dari masa lalunya, cobalah jadikan ini sebuah patokan...
sebuah alasan kenapa kita, perempuan, harus tahu caranya menjaga harga diri...
andaikan kita mempunyai permata, tidak akan kita umbar di halaman rumah tanpa penjagaan...
Perempuan memang punya keterbatasan, tapi tidak berarti kita harus menyerah...
batas-batas perilaku memang harus tetap dijaga, mengerti kewajiban dan cara2 apa yg harus kita lakukan...
tapi kita juga punya hak yang sama dengan laki-laki, hanya saja dengan cara yang berbeda...
jadilah perempuan luar biasa pada kemampuanmu dan keterbatasanmu itu...
jadilah makhluk yang selalu dilindungi, tapi bukan makhluk yang lemah akibat perlindungan itu...
jadilah makhluk penyayang dengan perasaanmu yang kuat dan lembut...
Menjaga harga diri, hanya perlu mengetahui dan melakukan sadar diri...
sadar diri memang sulit, aku pun merasakan itu...
larangan-larangan yg ada bukan berarti membatasi kita sebagai perempuan untuk bertindak...
hanya saja itu sebagai bentuk kasih sayang dunia kepada kita, perempuan, sebagai permatanya...
kemarahan-kemarahan pada tindakan yang tidak tahu malu yang dilakukan seorang perempuan, hanya sedikit dari kasih sayang manusia padanya...
aturan-aturan agama tentang perempuan sebagai makhluk yg selalu ada dibawah tanggung jawab seorang laki-laki, hanyalah secuil rasa cinta Sang Pencipta untuk mereka...
Kalau dunia, sesama manusia, dan Sang Pencipta saja sudah sepeduli itu pada diri kita...
tidakkah kita berpikir kembali untuk menyayangi diri kita sendiri, wahai perempuan???
tidakkah berpikir seberapa besar usaha mereka melindungi harga diri kita sebagai perempuan???
ingatlah masa lalu memang takkan dapat diubah, tapi masih ada masa depan...
tinggalkan kesalahan-kesalahan masa lalu sebagai guru untuk meraih masa depan...
Kenali diri kita sebagai perempuan, sadar diri, dan melangkah untuk perbaikan diri dan perbaikan umat manusia...
*Semoga bisa jadi bahan instropeksi diri sendiri juga...
SIAPKAN DIRI JADI PEREMPUAN LUAR BIASA !!!!
bukan hal yang buat kita merugi kok, sebagai perempuan, untuk menjaga harga diri...
mengerti setiap batasan diri untuk melangkah lebih jauh...
ada perkataan bahwa perempuan itu dinilai dari masa lalunya, cobalah jadikan ini sebuah patokan...
sebuah alasan kenapa kita, perempuan, harus tahu caranya menjaga harga diri...
andaikan kita mempunyai permata, tidak akan kita umbar di halaman rumah tanpa penjagaan...
Perempuan memang punya keterbatasan, tapi tidak berarti kita harus menyerah...
batas-batas perilaku memang harus tetap dijaga, mengerti kewajiban dan cara2 apa yg harus kita lakukan...
tapi kita juga punya hak yang sama dengan laki-laki, hanya saja dengan cara yang berbeda...
jadilah perempuan luar biasa pada kemampuanmu dan keterbatasanmu itu...
jadilah makhluk yang selalu dilindungi, tapi bukan makhluk yang lemah akibat perlindungan itu...
jadilah makhluk penyayang dengan perasaanmu yang kuat dan lembut...
Menjaga harga diri, hanya perlu mengetahui dan melakukan sadar diri...
sadar diri memang sulit, aku pun merasakan itu...
larangan-larangan yg ada bukan berarti membatasi kita sebagai perempuan untuk bertindak...
hanya saja itu sebagai bentuk kasih sayang dunia kepada kita, perempuan, sebagai permatanya...
kemarahan-kemarahan pada tindakan yang tidak tahu malu yang dilakukan seorang perempuan, hanya sedikit dari kasih sayang manusia padanya...
aturan-aturan agama tentang perempuan sebagai makhluk yg selalu ada dibawah tanggung jawab seorang laki-laki, hanyalah secuil rasa cinta Sang Pencipta untuk mereka...
Kalau dunia, sesama manusia, dan Sang Pencipta saja sudah sepeduli itu pada diri kita...
tidakkah kita berpikir kembali untuk menyayangi diri kita sendiri, wahai perempuan???
tidakkah berpikir seberapa besar usaha mereka melindungi harga diri kita sebagai perempuan???
ingatlah masa lalu memang takkan dapat diubah, tapi masih ada masa depan...
tinggalkan kesalahan-kesalahan masa lalu sebagai guru untuk meraih masa depan...
Kenali diri kita sebagai perempuan, sadar diri, dan melangkah untuk perbaikan diri dan perbaikan umat manusia...
*Semoga bisa jadi bahan instropeksi diri sendiri juga...
SIAPKAN DIRI JADI PEREMPUAN LUAR BIASA !!!!
Senin, 15 April 2013
CurCol: Sifat Diri
Saat kekesalan pada diri ini memuncak.
Saat mempertanyakan kenapa orang-orang bersikap seperti
tidak mau tahu lagi tentangku.
Saat mempertanyakan kenapa aku bersikap seperti ini dan itu.
Satu kalimat tidak sengaja menyadarkanku.
Tuhan tidak akan memberikan
sifat-sifat dirimu hanya untuk disia-siakan.
Semua yang Tuhan lakukan pasti
ada maksud dan tujuannya.
Tapi apa itu? Aku belum tahu
pasti.
Tapi jalannya untuk mendapatkan
jawaban itu rasanya terlalu terjal untuk dilewati.
Menghabiskan semangat yang
terpupuk sejak lama bersama tawa.
Risau untuk tahu jawabannya
secepatnya.
Benar-benar tidak sabar, tapi
juga tidak tahu harus melakukan apa.
Seharusnya aku nekat saja
melabrak dan mempertanyakannya,
tapi yang aku lakukan hanya
tertunduk lesu tak mengerti apa-apa.
Menyadari betapa bodohnya diriku
yang harus terus bergantung pada orang lain.
Betapa bodohnya diriku yang
membuat orang lain merasa terjatuh dan tak bersemangat.
Aku mohon, maafkanlah si bodoh
yang tidak berperasaan ini.
Si bodoh yang sudah dengan sukses
membuat dirinya dibenci banyak orang.
Kamis, 14 Maret 2013
Curcol : Kedewasaan
Menjadi
dewasa itu proses dan akupun masih dalam proses itu. Aku masih sering
kekanak-kanakan dengan sikap yang sebenarnya nggak perlu dilakuin di depan
banyak orang. Tapi, itulah aku sekarang. Aku yang ceplas-ceplos, suka ketawa
keras-keras, masih suka nelat sana-sini, panik dengan masalah kecil, dan pada
akhirnya nangis sendirian untuk menghibur diri. Kemudian, aku berpikir, kapan
aku menjadi dewasa???
Menjadi
dewasa itu nggak cuma masalah sikap dan cara bicara aja. Tapi buat aku yang
paling penting untuk menjadi dewasa adalah bagaimana cara kita berpikir,
bagaimana cara pandang kita pada suatu permasalahan, bagaimana cara kita
menyelesaikannya, dan pada akhirnya bagaimana kita harus mengimprove diri kita
sendiri. Sulit dan butuh waktu panjang. Terlebih lagi kita harusnya mulai
melihat segala masalah bukan lagi cuma dari sisi kesalahan yang dilakukan orang
lain, tapi kesalahan macam apa yang sudah kita lakukan.
Jangan
cuma nyalah-nyalahin orang lain, tapi juga berpikir apakah kita sudah melakukan
sesuatu itu dengan cukup baik, apakah kita sudah memberikan cukup, atau apakah
kita sudah memberikan yang lebih baik dari orang lain.
Kalau
orang lain tidak beranggapan sama dengan kita, jangan cuma ngotot kalau orang
lain yang salah dan diri kita selalu benar. Mau menang sendiri dan pada
akhirnya bicara yang nggak penting dan nyakitin hati orang lain.
Dua
hal di atas, aku sendiri masih sering melakukan. Diluar kontrolku, aku tahu
masih banyak yang sakit hati dengan sikap-sikapku. But, I’m trying become
better and better. Karena aku juga ngerasain gimana capek dan keselnya
berurusan dengan orang yang cara berpikirnya masih kekanak-kanakan banget.
Berasa ketemu diriku enam tahun lalu. Eh, malah ngomongin orang, tapi mungkin
kalau nggak karena kasihan sama orang itu dan bingung harus ngapain lagi, aku
nggak bakal nulis curcol ini.
Ayolah,
kita bareng-bareng berusaha untuk bersikap dan berpikir lebih dewasa dan nggak
childish lagi kayak gini. Tumbuh bersama-sama menjadi seseorang yang lebih
kokoh dan tidak mudah tumbang hanya karena masalah kecil.
Curcol : Emosi dan Egoistik
Harusnya
malam ini aku selesaiin laporan praktikum yang deadlinenya besok siang, tapi
bukannya buka bahan-bahannya aku malah kepikiran buat nulis sesuatu. Entah ini
hal besar yang terjadi dalam hidupku atau bukan, tapi yang pasti, sekarang ini buatku adalah masa-masa sulit
untuk dilewati. Mau nangis, rasanya kekanak-kanakan banget. Mau lari, nggak
akan menyelesaikan masalah. Sedih itu pasti, down. Yang aku bisa lakuin ya cuma
mencoba menjalani semuanya, walaupun sakitnya kayak apa juga. Tetap harus dilewati.
Mungkin belum semua masalah terselesaikan dengan baik, tapi aku udah mulai bisa
tersenyum dengan keadaan sekarang ini.
Bingung
ya aku ngomongin apa sebenarnya??? Hehehee... Tapi aku rasa aku mulai dapet
banyak pelajaran dari kejadian akhir-akhir ini. Pelajaran paling besar adalah
bagaimana kita harus menghargai orang-orang disekitar kita. Mencoba menerima
mereka apa adanya, mendengarkan mereka, mendampingi mereka, dan kemudian yang
tanpa sadar kita dapatkan adalah menjadi seseorang yang lebih dewasa untuk
bersikap.
Mungkin
nggak banyak orang tahu, bagaimana aku sebenarnya. Temperament, walaupun aku
rasa sekarang aku pun masih seperti itu, tapi dulu, sekitar 6-7 tahun lalu
sangat-sangat parah. Aku pernah hampir memukul teman laki-lakiku di sekolah, kalau
saja salah satu sahabatku yang mungil dan manis itu tidak berusaha memisahkan
kami. Berteriak seperti orang gila saat itu, membanting tas yang aku bawa
sampai beberapa barang yang ada didalamnya rusak. Rugi bagiku. Namun sekarang,
aku mulai merasakan aku sedikit berubah. Sedikit??? Ya, aku masih sering
marah-marah, berteriak-teriak dengan kata-kata umpatan yang harusnya tidak
boleh disebutkan. Tapi bedanya tidak lagi aku lampiaskan langsung ke orangnya,
ending-nya aku nangis sendiri untuk nahan emosiku. Kalau aku masih kayak dulu,
nggak tau deh udah ada berapa banyak orang yang aku ajak berantem di sini.
Hehehee...
Terus
gimana aku mecahin masalahnya??? Jawaban ringannya adalah mencoba bicara dengan
orang-orang terdekat, mencari cara terbaik untuk menyelesaikannya. Kalau aku
marah atau nggak suka dengan orang lain, mungkin awalnya aku akan menghindar.
Bukan berarti aku menghindar selamanya, tapi aku cuma takut emosiku bakal pecah
dan omongan kasar yang nggak perlu disebut akhirnya keluar. Nyakitin hati orang,
itu yang aku paling hindari saat ini. Mulutku terlalu ceplas-ceplos dan udah
banyak korbannya. Aku akan coba berpikir, merenung sendiri, dan menenangkan
emosiku. Kalau aku udah siap, aku juga bakal mulai ngomong sama orang itu. Atau
kalau aku butuh bantuan orang lain untuk ngomong ke orang itu ya aku bakal
minta ke orang yang aku anggap lebih dewasa dan mengerti permasalahan kami
dengan baik. Bukan sembarangan orang yang nggak tau apa-apa.
Nggak selamanya orang lain yang salah. Kadangkala
kita juga harus berkaca dan melihat ke dalam diri kita, apa yang salah dengan
diri kita. Kemudian, mencoba memperbaiki segala. Mungkin terkesan lama dan
bertele-tele. Tapi, hasil yang kita dapatkan tidak hanya untuk saat ini.
Jangkauannya panjang. Setiap masalah yang kita hadapi, aku yakin, akan mengubah
kita, walaupun itu kecil. Kalau tidak ada perubahan dalam diri kita, itu
berarti kita tidak pernah belajar. Buatku, kebodohan itu bukan cuma masalah
otak, tapi kalau hati kita juga bodoh itu lebih parah karena aku yakin
kebodohan dalam hati kita itu akan menyakiti tidak hanya orang-orang di sekitar
kita tapi juga diri kita sendiri.
Sedih
rasanya masih banyak orang-orang dan terlebih untuk teman-temanku sendiri yang
belum satu jalan pikiran denganku tentang pentingnya mendengarkan orang lain,
mencoba belajar dari kesalahan, melepaskan segala egoistik yang membuat kita
merasa lebih tinggi dan tidak mau mengalah. Mencoba meredakan emosi dan
menghindari masalah yang lebih besar dengan hal ini. Mungkin kata-kataku ini
akan dianggap just bullshit untuk mereka, tapi ini yang aku rasain. Ketika kita
banyak bicara dan mengedepankan emosi dan egoistik, kita nggak akan mau
mendengarkan apa yang dikatakan sekitar kita. Menganggap diri kita yang paling
tinggi, padahal diri kitalah yang saat itu adalah orang yang paling bodoh. Dan,
kita akan menjadi orang-orang yang paling ketinggalan dan rugi besar.
Yahh,
harapanku berikutnya ya semoga mereka mau mulai belajar bareng sama aku
sekarang ini. Menyelesaikan segala masalah nggak pake emosi, nggak pake rasa
egoistik yang terlalu tinggi, dan mulai menggunakan senyuman untuk berpikir
lebih dalam lagi. Yyuukk??? Hehehee...
Jumat, 28 Desember 2012
Curcol: Egoismeku
Mencari setiap jejak yang mungkin diikuti,
haruskah aku lakukan? Atau yang aku inginkan adalah membuat jejakku sendiri
untuk diikuti orang lain. Menarik memang, tapi kesanggupanku rupanya tak
sebesar harapanku. Jiwa pemberontak yang bebas tanpa kekangan rupanya
membisikkan banyak hal menakutkan bagiku. Mempertanyakan kesanggupan pribadi
tentang segala mimpi. Mungkin inilah titik balik dari segala usaha untuk setiap
mimpi yang kucoba jalani tanpa beban. Kemudian penyadaran itu datang.
Ketidakfokusan dalam diriku sendiri memang membuatku tahu segalanya, dan itu
berarti aku tidak menguasai satu hal dengan sungguh-sungguh. May I be a Master
of nothing?? Yes, I may be. I am scared about that. Anything I wanna do just
disappeared when I heard something more interesting. Is this my fault? Yes, I
think.
Dan kemudian tanpa disadari, aku kehilangan
kebebasanku, kesendirianku, waktuku untuk diriku sendiri. Egois memang
kedengarannya. Namun, hal itu hanya sampai pada saat aku menyadari seberapa
egoisnya aku pada tubuhku, otakku, batinku, hatiku. Anything I do just thought
to do anything the best. I just try and do in my best. Bukan bermaksud
perhitungan atau apapun namanya itu karena aku mendapat banyak hal dalam
hidupku, pengalaman, pelajaran, sahabat, keluarga baruku. Tapi, sekali lagi
kesanggupanku dipertanyakan.
Kecewa dengan diriku sendiri itu kepastian yang
tidak perlu dipertanyakan lagi. Merasa ingin lebih berkembang, tapi tak pernah
sanggup mencapai target yang ditetapkan. Seberapa besar perkembanganku mungkin
orang lain bisa lebih banyak melihatnya. Tapi seberapa besar pikiran orang lain
berkembang terhadapku, aku yakin aku bisa lebih baik dalam melihat hal ini.
Diacuhkan atau mengacuhkan, mana yang akan aku pilih? Aku akan memilih
diacuhkan, hal yang rasanya sudah lumrah dalam hidupku. Namun, semua ini ada
batasannya. Dan, entah mengapa, aku merasa ini semua sudah diluar dari batas
kesanggupanku untuk menahan segala keegoisan dalam benakku.
Note : Aku memang egois, aku menyadari itu, dan
aku ingin kalian mengerti itu.
Kamis, 27 September 2012
Pemimpin Perempuan
Mempertanyakan apa yang ada
dalam pikiran kita terdengar bagus. Lalu, bolehkah aku mempertanyakan tentang
kepemimpinan kaumku? Kaum perempuan. Banyak hal yang ada dalam pikiranku
tentang hal ini. Mungkin juga karena ambisiku sebagai perempuan untuk menjadi
seorang pemimpin. Ya, bisa disebut sebagai ambisi. Karena aku rasa keinginan
ini kadangkala menjadi terlihat berlebihan, baik dari pandangan orang lain
maupun pandanganku sendiri. Kenapa? Aku rasa menjadi pemimpin itu menyenangkan,
tapi ternyata tidak mudah. Banyak tingkatan kepribadian yang harus dimiliki.
Dari beberapa pengalaman yang aku dapatkan, menjadi koordinator itu lebih mudah
daripada jadi seorang pemimpin yang bijaksana. Berbeda, sangat berbeda.
Awal pemikiran tentang
pemimpin perempuan ini muncul, saat aku tahu bahwa dalam Islam, agama yang
menjadi pandangan hidupku, ada semacam perkataan pemimpin itu harus seorang
laki-laki. Shock? Awalnya iya. Merasa dibedakan itu pasti. Satu hal yang
menjadi pikiran paling berat adalah aku tidak bisa meneruskan apa yang aku
inginkan. Ambisiku. Namun, setelah aku cari tahu lebih dalam, Islam tidak
sedangkal itu. Lebih mudahnya ada kata-kata bagus yang aku suka, Islam itu
telah menempatkan perempuan ditempat yang sepantasnya. Bukan di bawah
laki-laki, tapi selalu dibawah tanggung jawab seorang laki-laki. Merasa
terlindungi? Itu pasti, dan setelah mengerti tentang hal ini, aku tidak lagi
merasa dibatasi.
Kembali pada topik utama,
pemimpin perempuan. Dari beberapa bacaan yang aku dapatkan dari internet, aku dapat
beranggapan secara pribadi, perempuan dapat menjadi pemimpin dengan ketentuan
dan batasan yang tidak dapat dilangkahi. Mencoba mengerti posisi diri, aku rasa
merupakan salah satu kunci utamanya. Sebagai seorang perempuan, kita harus
memahami dimana kita menjadi pemimpin dan dimana kita menjadi seorang pengikut.
Maaf saja, sering aku merasa perempuan yang sudah mempunyai posisi baik
dikalangan masyarakat akan lupa dengan posisinya sebagainya perempuan dihadapan
Tuhannya. Terlalu sombong untuk mengakui posisinya sebagai tanggung jawab
seorang laki-laki. Sebuah kesalahan yang sering sekali terjadi. Semoga kita
dapat dihindarkan dari hal ini.
Alasan kenapa aku mendukung
perempuan sebagai pemimpin di masyarakat, bukan dalam urusan agama, seperti
menjadi manajer, direktur, menteri, bahkan presiden adalah masalah kemampuan.
Jika kamu mampu untuk melakukannya, maka lakukanlah. Toh bebas mengekspresikan
diri bukan berarti tidak mengikuti aturan yang ada kan? Coba saja cari tahu
tentang seorang pemimpin perempuan pada zaman Rasulallah, Asma binti Yazid, seorang perempuan terhormat yang mengabdikan dirinya
untuk Islam. Bagaimana ia memimpin kaum perempuan untuk berjuang saat itu. Yang
sanggup aku ketahui bahwa perempuan punya peranan tersendiri dalam kehidupan.
Ya, itu sudah tentu, untuk apa perempuan diciptakan. Dalam hal ini, aku melihat
bahwa ada beberapa aspek dan bidang tertentu yang dapat atau sebaiknya
dilakukan oleh perempuan. Kenapa? Tentu saja karena kemampuan perempuan itu
sendiri. Perempuan diciptakan dengan kepekaan perasaan yang lebih baik, lebih
detail melihat suatu hal, dan biasanya lebih multitasking. Kemampuan macam
inilah yang akan menjadi modal untuk seorang pemimpin perempuan yang akan
didukung dengan pengetahuan dibidang yang akan ia pimpin. Menurut aku sendiri,
ketika kita bersaing dengan kaum laki-laki di tempat kerja dan sebagai
perempuan kita dinilai lebih baik dalam memimpin, kenapa tidak kita ambil
posisi yang diserahkan pada kita sebagai pemimpin itu. Toh, saat itu kita
dinilai lebih mampu, lebih baik, dan yang terpenting kepercayaan diri serta
keyakinan kita dalam mengambil posisi itu. Cobalah menjadi orang yang bijaksana
dalam menempatkan posisi diri, sekali lagi hal ini menjadi pokok pemikirannya.
Lalu, apa tanggapan orang lain tentang hal
ini? Ada beberapa orang yang aku tanya tentang ini. Secara agama tentu mereka
menolak perempuan sebagai pemimpin agama. Namun, untuk memimpin hal lainnya,
beberapa orang menyatakan tidak masalah, walaupun ada pula yang masih menolak.
Dengan alasan secara kemampuan, laki-laki memang dinilai lebih baik dalam
memimpin, lebih stabil, dan lebih menggunakan logika. Aku juga mengakui itu.
Ada satu jawaban yang lebih menarik, perempuan atau siapa pun itu bisa menjadi
pemimpin sesuai dengan kebutuhan dan keadaan saat itu. Ketika amanat itu datang
padamu dan jika kamu tidak mau mengambilnya kemudian akan terjadi hal yang
buruk, maka lebih baik kamu memenuhi amanat itu dengan segala kemampuan yang
kamu miliki. Karena aku merasa ada saat-saat dimana kita harus melakukan
sesuatu itu, sebelum terjadi hal yang lebih buruk dan itu menjadi kewajiban
kita untuk mencegahnya. Seperti ada tingkatannya, dari mulai makruh, sunah,
sampai wajib. Hehehee.
Penekanan terakhir untuk
opiniku tentang masalah ini. Aku mendukung seorang perempuan menjadi pemimpin.
Tentunya dengan beberapa syarat. Perempuan itu harus tahu dan mengerti tentang
posisinya sebagai makhluk terlindungi yang menjadi tanggung jawab seorang
laki-laki. Perempuan itu harus memiliki kemampuan seorang pemimpin yang baik
dan memiliki keyakinan dalam menjadi seorang pemimpin yang bijak. Dan menjadi
seorang pemimpin akan menjadi sangat wajib ketika kita dihadapkan pada
keburukan yang akan terjadi jika kita melepaskan kesempatan untuk menjadi
seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin perempuan yang baik, ayo kita
perbaiki dulu diri kita sehingga kita mengerti untuk apa kita diciptakan.
Semoga
opiniku ini dapat menjadi pertimbangan tersendiri. Bisa juga coba cari tahu
tentang posisi wanita dalam Islam dan bagaimana beberapa penulis barat mulai
mengakui betapa baiknya penempatan ini. Perbaikan-perbaikan kaum perempuan yang
menjadi pembicaraan aku rasa menjadi alasan yang pantas untuk mengetahui hal
ini.Dan, TERIMA KASIH sudah membaca opini ini. Ciao.... : )
Langganan:
Postingan (Atom)